Raup PNBP Rp25 Miliar, Rinjani Kini dalam Tantangan 30 Ton Sampah
Mataram (NTBSatu) – Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), merilis data tahunan dengan judul “Rinjani Dalam Angka 2025”. Informasi ini mencatat berbagai dinamika pengelolaan di sekitar kawasan.
Seluruh data mencakup data kunjungan wisata, kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kemudian, keselamatan pengunjung hingga persoalan lingkungan terkait tantangan pengelolaan sampah.
Berdasarkan data TNGR tersebut menunjukkan, tingginya minat masyarakat di samping tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai salah satu aset vital negara, TNGR mencatat total penerimaan PNBP sepanjang tahun 2025 mencapai Rp25.926.691.000. Besaran pendapatan menunjukkan, kontribusi besar sektor pariwisata alam bagi negara dan pengelolaan kawasan konservasi.
Pendapatan tertinggi terjadi pada Mei 2025, yaitu lebih dari Rp3,8 miliar. Sedangkan penerimaan terendah pada Januari hingga Maret, karena adanya pemeliharaan ekosistem dan beberapa kali penutupan jalur pendakian.
Untuk kunjungan wisatawan pada 2025, tercatat total 132.322 pengunjung dengan kategori destinasi wisata pendakian dan non pendakian. Destinasi wisata pendakian menyumbang pengunjung sebanyak 80.214 orang, terdiri dari 43.236 wisatawan mancanegara dan 36.978 wisatawan lokal.
Sedangkan destinasi non pendakian, ada 52.108 pengunjung, berbanding terbalik dengan sektor pendakian. Destinasi ini justru didominasi oleh pengunjung lokal sebanyak 51.311 orang dan tamu mancanegara sebanyak 797 orang.
Tantangan Lingkungan
Tingginya jumlah kunjungan justru menimbulkan tantangan lingkungan yang cukup serius. Pada 2025, kawasan TNGR mencatat total sampah sebanyak lebih dari 31 ton menunjukkan penurunan 9 ton dari tahun sebelumnya.
Meski adanya tren penurunan, jumlah volume sampah yang fantastis saat ini masih perlu perhatian serius dari pihak pengelola dan pengunjung, demi keberlanjutan ekosistem Rinjani.
Di sisi lain, terlihat pada data evakuasi pengunjung yang masih cukup tinggi sepanjang 2025. Tercatat ada 72 kasus, dengan rincian 52 kasus jatuh terkilir, 5 kasus hipotermia, 4 kasus sakit, 2 kasus tersesat, dan 3 orang meninggal dunia.
Pemaparan data dari TNGR menunjukkan jika pengelolaan Gunung Rinjani, tidak hanya berfokus pada pendapatan devisa, tetapi tanggung jawab tentang menjaga lingkungan dan standar keamanan yang harus ditaati semua pihak. (Inda)



