Kota Mataram

Siklon Tropis Mengamuk, Kota Mataram Dikepung Hujan Deras dan Gelombang Tinggi

Mataram (NTBSatu) – Kota Mataram dan wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) berada dalam kepungan cuaca ekstrem, akibat dampak siklon tropis yang aktif di wilayah Selatan Indonesia.

Hujan deras, angin kencang, serta gelombang tinggi kini meningkatkan risiko bencana, mulai dari pohon tumbang hingga banjir rob dan abrasi pantai.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan kondisi ekstrem masih berpotensi terjadi hingga akhir pekan.

IKLAN

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Akhmad Muzaki mengatakan, meskipun wilayah NTB secara klimatologis telah memasuki masa peralihan menuju kondisi yang lebih stabil, pengaruh siklon tropis membuat potensi hujan lebat dan angin kencang tetap tinggi.

“Saat ini dampak siklon tropis masih sangat terasa. Potensi angin kencang, hujan deras, dan gelombang tinggi masih berlanjut dan bisa menimbulkan bencana,” ujar Muzaki, Rabu, 14 Januari 2026.

Dampak cuaca ekstrem sudah mulai terjadi. Pada Senin, 12 Januari 2026 sebuah pohon tumbang di Jalan AA Gede Ngurah, Abian Tubuh, menimpa dua mobil yang terparkir dan menyebabkan satu warga mengalami luka-luka.

“Ini menjadi peringatan awal bahwa risiko nyata sedang kita hadapi,” tegasnya.

Ancaman tidak hanya datang dari darat. Perairan di sekitar pesisir Mataram juga berada dalam kondisi berbahaya akibat meningkatnya tinggi gelombang.

Siklon tropis di wilayah Selatan memicu penguatan angin dan arus laut yang menyebabkan gelombang di sejumlah perairan melonjak signifikan.

BMKG memprediksi tinggi gelombang di Selat Lombok, khususnya kawasan Pantai Ampenan, dapat mencapai 2,5 meter atau lebih. Sementara itu, perairan Sumbawa juga diperkirakan berada pada level yang sama.

“Ini sudah masuk kategori sedang hingga ekstrem dan sangat berisiko bagi nelayan maupun pelayaran,” kata Muzaki.

Kondisi tersebut turut meningkatkan ancaman banjir rob di sepanjang 9,1 kilometer kawasan pesisir Kota Mataram, mulai dari Ampenan hingga Sekarbela. Meski demikian, status kebencanaan Kota Mataram saat ini masih berada pada level siaga.

Warga Pesisir Batasi Aktivitas

Lurah Bintaro, Rudy Herlambang meminta warga pesisir, terutama nelayan, untuk tidak memaksakan diri melaut saat gelombang tinggi masih berlangsung.

“Kalau gelombang besar, sebaiknya aktivitas di laut dikurangi. Keselamatan jauh lebih penting,” ujarnya.

Ia mengatakan, masyarakat pesisir Bintaro sudah cukup terbiasa menghadapi banjir rob dan abrasi, namun kondisi cuaca ekstrem kali ini tetap memerlukan kewaspadaan ekstra. Pemerintah kelurahan terus menyampaikan peringatan melalui kepala lingkungan dan berkoordinasi dengan BPBD.

Meski pemasangan tanggul sementara oleh Dinas PUPR cukup membantu menahan hantaman gelombang, warga berharap adanya solusi permanen untuk mengatasi abrasi yang terus menggerus garis pantai. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button