Banjir Rob Terjang Pesisir Ampenan, 300 KK Terdampak
Mataram (NTBSatu) – Banjir rob kembali menerjang kawasan pesisir Ampenan, Kota Mataram, Kamis dini hari, 22 Januari 2026. Air laut meluap ke daratan, merendam permukiman warga di Kelurahan Bintaro.
Berdasarkan pantauan NTBSatu, Jumat pagi, 23 Januari 2026, pada sejumlah titik, perahu-perahu nelayan terdorong arus hingga masuk ke halaman, bahkan ruang tamu rumah warga.
“Air datang cepat sekali. Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa, perahu langsung terdorong sampai ke dalam rumah,” ujar Hasan, warga pesisir yang berprofesi sebagai nelayan sambil menunjukkan ruang tamunya yang masih basah oleh air laut.
Warga berupaya menyelamatkan diri dan barang-barang berharga di tengah genangan. Aktivitas sehari-hari pun lumpuh. Sejumlah anak terpaksa tidak berangkat sekolah karena akses jalan tergenang, sementara para nelayan memilih menambatkan perahu dan menunda melaut.
“Anak-anak tidak sekolah hari ini. Seragam basah semua, jalan juga masih tergenang,” kata Nuraini, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Bintaro.
Di dalam rumah-rumah yang terendam, dampak banjir rob terlihat jelas. Perabotan basah, alat dapur terseret arus. Beberapa ibu rumah tangga tampak terduduk di teras, menatap peralatan memasak yang rusak.
“Wajan sama kompor hanyut, mau masak juga bingung,” ucap Siti, warga Kampung Bugis, dengan nada pasrah.
Penanganan Pemkot Mataram
Sejak pagi hari, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram turun langsung ke lapangan. Seluruh perangkat daerah bergerak menangani kondisi darurat, memastikan keselamatan warga, serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana menyebut, fokus utama pemerintah berada pada perlindungan warga dan percepatan penanganan di lokasi terdampak.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Pemerintah hadir untuk memastikan warga mendapatkan perlindungan, layanan, dan bantuan secara cepat,” ujarnya saat meninjau lokasi.
Pemkot Mataram menyiapkan tenda pengungsian, mengoperasikan dapur umum, serta menyalurkan logistik. Petugas gabungan membantu evakuasi, melayani pengungsi, sekaligus membersihkan lingkungan permukiman dari lumpur dan sampah sisa genangan air laut.
Kegiatan gotong royong juga masuk dalam agenda pemulihan. Pemerintah bersama warga membersihkan rumah dan fasilitas umum agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan secara bertahap.
Camat Ampenan, Muzakir Walad mencatat, dampak banjir rob ini menyentuh sekitar 300 Kepala Keluarga (KK). Sebanyak 18 rumah mengalami kerusakan, sementara 27 KK memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah mendirikan posko pengungsian berupa tenda komando di Yayasan PKBM, Kecamatan Ampenan. Posko tersebut berfungsi sebagai pusat layanan pengungsi, distribusi bantuan, serta koordinasi lintas instansi.
“Posko ini memudahkan pelayanan warga sekaligus mempercepat koordinasi penanganan di lapangan,” jelas Muzakir.
Selain penanganan darurat, Pemkot Mataram menyiapkan langkah mitigasi dan penguatan pengamanan pantai di titik-titik rawan guna mengurangi risiko dampak gelombang laut tinggi pada kejadian serupa di masa mendatang. (*)



