Dituding Cabul, Oknum Pimpinan Ponpes di Loteng Diduga Paksa Santriwati Sumpah “Nyatok”
Mataram (NTBSatu) – Oknum pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah (Loteng), diduga memaksa santriwatinya bersumpah “nyatok”. Alasannya, mereka dianggap menyebarkan fitnah oknum pimpinan Ponpes tersebut melakukan pelecehan seksual.
Kejadian ini terungkap saat lima santriwati datang melapor dan meminta perlindungan di Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram (Unram). Mereka mengadu Selasa, 13 Januari 2026 kemarin.
“Sumpah ‘nyatok’ dengan minum air dengan dicampur tanah dari makam yang dikeramatkan,” kata Ketua BKBH Unram, Joko Jumadi kepada NTBSatu, Rabu, 14 Januari 2026.
Padahal, sambung Joko, apa yang santriwati itu ungkapkan berdasarkan rekaman audio yang beredar. Isinya, pengakuan salah satu ustazah diduga melakukan persetubuhan dengan pimpinan Ponpes tersebut.
“Rekaman itu ada,” ucapnya.
Joko menilai, tindakan oknum petinggi Ponpes tersebut merupakan bentuk tekanan psikis kepada korban. Lebih-lebih, santriwati itu masih berstatus anak di bawah umur.
Pengakuan salah satu Santriwati kemarin, terduga pelaku sempat memberikan handphone (hp). Kemudian, meminta korban agar memfoto salah satu bagian tubuhnya. Alasannya, agar si santriwati itu mendapat doa khusus dari sang tuan guru.
“Tapi si santriwati ini menolak permintaan tersebut,” terang Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram ini.
Joko menjelaskan, pihaknya saat ini fokus pada tekanan psikis pelaku kepada para santriwati. Termasuk, dugaan kekerasan seksual oknum pimpinan Ponpes tersebut.
“Jadi, ini yang kita mau laporkan, laporan kekerasan psikis adanya desakan mengambil sumpah. Ini bukan fitnah, anak-anak itu ada rekaman. Sudah beredar,” bebernya.
Sementara itu, Humas Kemenag Lombok Tengah, Nurul Hilmi mengaku belum pernah mendengar dugaan pelecehan seksual pada santriwati tersebut.
“Kalau masalah ini secara pribadi belum dapat informasi. Untuk sementara belum ada info,” singkatnya kepada NTBSatu. (*)



