Tiga Bulan Tanpa Sekolah, Siswi SDN 2 Ntonggu Bima Menangis Mohon Bantuan Bupati
Bima (NTBSatu) – Siswa SDN 2 Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, menghadapi kondisi memprihatinkan setelah sekolah mereka tertutup selama hampir tiga bulan.
Situasi ini memicu kesedihan mendalam hingga seorang siswi menangis dan memohon bantuan langsung kepada Bupati Bima serta Presiden Republik Indonesia.
Sejak awal penutupan, kegiatan belajar mengajar tidak berjalan normal. Para siswa belajar di bawah tenda sederhana yang sekolah sediakan sebagai solusi sementara.
Kondisi cuaca sering mengganggu proses belajar, sehingga guru dan siswa harus menghentikan kegiatan sebelum materi pelajaran selesai. Keadaan ini menurunkan kenyamanan belajar dan menghambat perkembangan akademik siswa.
Masalah ini tidak hanya menghambat pendidikan, tetapi juga mengancam hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan nyaman. Sementara itu, orang tua siswa turut merasakan kekhawatiran karena masa depan anak-anak mereka terancam.
Siswa Minta Sekolah Dibuka
Perhatian publik tertuju pada persoalan ini setelah sebuah video keluhan siswa viral di media sosial. Akun Facebook bernama Nas Kalate Jr mengunggah video dengan keterangan, “Semoga Pemerintah Kabupaten Bima Mendengar suara Siswa-Siswi SDN 2 Ntonggu Palibelo Kabupaten Bima ini”.
Video itu memperlihatkan seorang siswi menyampaikan keluhan dengan suara polos dan tangisan yang menyentuh hati.
Salah seorang siswi SDN 2 Ntonggu mewakili teman-temannya untuk menyampaikan permohonan. Ia berharap, pemerintah segera membuka kembali sekolah agar mereka bisa belajar seperti siswa lainnya.
“Bolehkah kami meminta bantuan kepada Bapak Bupati, Pak Prabowo, untuk membuka segel sekolah kami? Karena kami membuat tenda sederhana untuk belajar sementara karena sekolah kami telah disegel,” ucapnya, mengutip Facebook Nas Kalate Jr, Selasa, 13 Januari 2026.
Siswi tersebut menegaskan, mereka ingin belajar secara aman dan nyaman sebagai generasi penerus bangsa. “Kami ingin belajar sebagai generasi emas, sebagai penerus bangsa kami harus belajar,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bima menyebut telah melakukan langkah awal untuk menangani persoalan ini.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setda Kabupaten Bima, Suryadin, S.S., M.Si. menegaskan, telah menggelar pertemuan bersama pihak sekolah serta meminta Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Bima melakukan tindak lanjut.
“Desember kemarin sudah ada pertemuan dengan pihak sekolah dan sudah diminta ke Dinas Dikpora untuk tindak lanjut,” ungkap Suryadin kepada NTBSatu, Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menambahkan, Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bima terus mengupayakan penyelesaian lanjutan. Menurutnya, penyegelan sekolah sempat terbuka beberapa kali, namun kembali tertutup hingga saat ini.
“Sedang diusahakan, sudah empat kali dibuka dan disegel kembali sampai sekarang,” tambahnya. (*)



