Nasional

Aksi Nekat Mahasiswa Unram Hadang Mobil Presiden, Sodorkan Evaluasi Kebijakan Nasional

Mataram (NTBSatu) – Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Mataram (DPM Unram), Maulana, nekat menghadang iring-iringan mobil dinas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di sela-sela acara kunjungan untuk meresmikan Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, pada Jumat, 10 Juli 2026.

Aksi nekat tersebut memaksa Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) dan aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan situasi. Keberanian Maulana terekam jelas dalam sebuah video amatir berdurasi singkat yang beredar di media sosial.

Mahasiswa Unram itu menjelaskan tujuan melakukan aksi menghadang tersebut untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung pada Prabowo. Ia terlihat menyerahkan sebuah kertas yang berisi poin-poin tuntutannya kepada Presiden.

IKLAN

“Kami menuntut evaluasi total kebijakan Prabowo, mulai dari MBG, Koperasi Merah Putih. Hingga kenaikan harga BBM yang memicu kelangkaan Pertalite,” ujarnya kepada NTBSatu pada Jumat, 10 Juli 2026.

Suasana di lokasi peristiwa juga yang awalnya tampak lenggang dan cuaca cerah, dengan jalan aspal yang membelah area persawahan dan pagar beton. Maulana dengan mengenakan almamater khas Unram dan celana hitam tampak berdiri kokoh tepat di tengah badan jalan sambil menunggu rombongan presiden melintas.

Detik-detik Penghadangan

Saat suara sirine pengawal bergema dan mobil SUV putih dengan pelat RI 1 mendekat, Maulana langsung mengangkat tangan. Dari tangan kanan yang diangkat tinggi, ia memperlihatkan selembar kertas putih berisi poin-poin tuntutan mahasiswa.

IKLAN

Tindakan berani ini seketika memicu kepanikan kecil di lini pengamanan depan. Petugas kepolisian dan beberapa pengawal bermotor langsung merapat untuk menghalau tubuh mahasiswa tersebut ke tepi jalan.

Meski mendapat desakan fisik dari petugas yang mencoba mengamankan, Maulana tetap berupaya mendekati jendela mobil kepresidenan. Prabowo yang saat itu berdiri menyapa warga dari atap terbuka kabin belakang mobil sempat menoleh dan berhenti.

Ia melihat langsung aksi penyodoran dokumen tersebut dan menerimanya. Setelah itu, presiden kembali melajukan kendaraannya melaju membelah kerumunan.

Suara dari Daerah

Selain menyoroti program strategis nasional, Maulana mengaku gerakan tersebut membawa aspirasi lokal yang sedang bergejolak di jajaran birokrasi daerah. Mereka menilai sejumlah kebijakan pusat belum berjalan selaras dengan kebutuhan riil masyarakat akar rumput, khususnya di wilayah NTB.

Maulana menegaskan aksi pencegatan ini merupakan jalan pintas agar suara mahasiswa langsung terdengar oleh pimpinan tertinggi negara. Ia menilai saluran aspirasi formal selama ini kerap tersumbat oleh birokrasi yang kaku.

“Kami juga mendesak penyelesaian isu-isu kedaerahan, termasuk pemberantasan praktik gratifikasi dan korupsi yang mandek di NTB,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait