LingkunganLombok Barat

Setelah Landfill Baru Dibuka, TPA Kebon Kongok Hanya Bertahan Sekitar 2,5 Tahun

Lombok Barat (NTBSatu) – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, yang sempat ditutup selama tiga bulan karena pembatasan ritase sampah, akhirnya dibuka kembali. Setelah dibuka, TPA mulai menggencarkan penyelesaian dan optimalisasi landfill baru.

Namun di balik langkah tersebut, tersimpan fakta mencemaskan. Perkiraannya kapasitas penampungan yang ada hanya mampu bertahan sekitar 2,5 tahun saja untuk ke depannya.

Kepala Seksi Pengolahan dan Pemrosesan Akhir TPA Kebon Kongok, Mulyadi Gunawan mengungkapkan, kondisi landfill saat ini sebenarnya sudah berada di titik jenuh. Keterbatasan lahan menjadi persoalan utama yang mendorong status darurat pengelolaan sampah.

“Permasalahan kita yang menyebabkan kita darurat itu memang karena keterbatasan area landfill kalau di sini. Di mana saat ini landfill kita sudah penuh seperti yang terlihat,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 14 April 2026.

Sebagai langkah cepat, pihaknya melakukan optimalisasi dalam tiga tahap pada tahun ini. Tahap pertama memanfaatkan lahan kecil sekitar empat are dengan kapasitas sekitar 11 ribu ton, namun hanya mampu bertahan sekitar satu bulan.

Selanjutnya, tahap kedua dengan luas 28 are diproyeksikan mampu menampung sekitar 50 ribu ton sampah dengan daya tahan sekitar lima bulan. Tahap ketiga yang menjadi tumpuan utama adalah pengembangan landfill seluas 48 are dengan model “piramida terbalik”.

Pada tahap ini, landfill lama dan baru akan digabung untuk memperluas daya tampung. “Nah untuk yang besar ini bisa kita bertahan kurang lebih sekitar dua tahunan. Ini kapasitasnya sekitar 250 ribu ton,” jelas Mulyadi.

Jika seluruh tahapan digabungkan, total daya tahan landfill baru diperkirakan hanya sekitar dua hingga dua setengah tahun. Sementara itu, volume sampah yang masuk terus meningkat sejak pembatasan pengangkutan dicabut.

“Sekarang semenjak dibuka kembali, bisa 400 ton yang masuk dalam sehari,” katanya.

Angka tersebut berasal dari Kota Mataram dan Lombok Barat, dengan Kota Mataram sebagai penyumbang sampah terbesar hampir sekitar 320 ton lebih.

Skema PLTS Jadi Solusi

Mengantisipasi krisis yang lebih besar, pemerintah daerah mulai menyiapkan solusi jangka panjang melalui pengolahan sampah berbasis energi atau Waste To Energy (WTE) dengan skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS).

“Dalam dua tahun ini akan diselesaikan terkait dengan PLTS-nya, lokasinya, dan yang lain,” ujar Mulyadi.

Namun, proyek ini membutuhkan pasokan sampah hingga 1.000 ton per hari. Artinya, perlu kerja sama lintas daerah seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Dengan waktu yang kian terbatas, TPA Kebon Kongok kini berada dalam fase krusial. Jika solusi jangka panjang tidak segera terealisasi, ancaman krisis sampah berskala besar bukan lagi sekadar kemungkinan. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button