Lebaran di Tanah Rantau, Cerita Mahasiswa Medan dan Sulawesi Jalani Ramadan di Sumbawa
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Bagi sebagian mahasiswa rantau, Ramadan dan Idulfitri bukan hanya tentang ibadah dan perayaan, tetapi juga tentang perjuangan menahan rindu keluarga. Jauh dari kampung halaman, mereka harus menjalani sahur, berbuka, hingga Lebaran tanpa kehangatan rumah seperti biasanya.
Itulah yang dirasakan Muhlisin Siregar, mahasiswa Teknik Elektro 2023 di Universitas Teknologi Sumbawa dari Medan, Sumatra Utara. Ramadan tahun ini menjadi tahun ketiganya menjalani puasa di tanah rantau, jauh dari keluarga.
Menurut Muhlis, panggilan akrabnya, Ramadan di perantauan memiliki banyak tantangan, terutama ketika harus menyiapkan segala sesuatu sendiri.
“Kalau ditanya suka dan duka, jujur sebagai anak rantau selama bulan Ramadan hampir tidak ada sukanya. Banyak dukanya, karena semua harus disiapkan sendiri, mulai dari sahur sampai buka puasa,” ujar Muhlis kepada NTBSatu.
Ia mengenang, ketika masih di rumah, semua kebutuhan sahur dan berbuka sudah keluarganya siapkan. Bahkan, ada yang membangunkan sahur.
“Biasanya kalau di rumah, bangun sudah ada makanan. Buka puasa juga tinggal makan saja. Tidak perlu pusing memikirkan apa yang harus dimasak,” katanya.
Namun di balik kesulitan tersebut, Muhlis mengaku pengalaman ini justru mengajarkannya arti kemandirian sekaligus membuatnya lebih menghargai waktu bersama keluarga.
“Dari suka dan duka itu saya belajar, memanfaatkan waktu bersama keluarga itu sangat bermakna. Di perantauan saya belajar arti kemandirian yang sebenarnya,” ungkapnya.
Lebaran dengan Roti dan Halalbihalal Asrama
Perbedaan suasana juga sangat terasa saat Hari Raya Idulfitri. Jika di rumah ia biasa menikmati hidangan khas seperti rendang, ketupat, dan lontong bersama keluarga, suasana itu tidak ia rasakan di perantauan.
“Kalau di rumah biasanya sarapan setelah Lebaran dengan rendang, ketupat, atau lontong. Tetapi kalau sebagai anak rantau, sebelum salat Id paling cuma makan roti,” tuturnya.
Setelah salat Id, Muhlis kembali ke asrama dan berkumpul bersama mahasiswa lain yang juga tidak pulang kampung.
“Habis salat Id kami makan bersama penghuni asrama yang tidak pulang, lalu halalbihalal sesama penghuni. Setelah itu kembali ke aktivitas masing-masing,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar selama Ramadan di perantauan adalah rasa rindu keluarga, terutama saat momen sahur dan berbuka. “Di rumah biasanya sahur itu ramai, tetapi di perantauan saya merasa sahur sendiri dan kadang terasa sepi,” ujarnya.
Rindu Orang Tua
Pengalaman serupa juga dirasakan Nova Rahman, mahasiswa asal Sulawesi Tengah yang juga menempuh pendidikan di Sumbawa.
Nova mengaku, momen yang paling berat selama Ramadan di perantauan adalah ketika harus sahur dan berbuka tanpa keluarga. “Kadang saya pasti rindu orang tua saat sahur sendiri atau saat berbuka sendiri,” katanya kepada NTBSatu.
Meski demikian, ia merasa tidak benar-benar sendirian karena memiliki teman-teman yang selalu menemani selama di Sumbawa.
“Tetapi saya juga merasa senang, karena di sini saya punya teman-teman dari prodi saya dan orang-orang Sumbawa yang saya kenal. Mereka merangkul saya dengan baik,” ujarnya.
Lebaran di Rumah Teman
Untuk Idulfitri tahun ini, Nufa belum memiliki rencana pasti untuk pulang kampung. Ia kemungkinan akan merayakan Lebaran bersama teman-temannya di Sumbawa.
“InsyaAllah rencananya saya akan ke rumah teman-teman saya. Beberapa dari mereka juga menawarkan saya untuk Lebaran di rumah mereka,” katanya.
Cerita Muhlis dan Nova merupakan potret kecil dari kehidupan banyak mahasiswa rantau di Sumbawa, yang harus menjalani Ramadan dan Idulfitri jauh dari keluarga.
Di tengah rasa rindu, mereka belajar tentang kemandirian, persahabatan, serta makna kebersamaan yang tidak selalu harus bersama keluarga kandung.
Bagi para mahasiswa tersebut, Ramadan di perantauan memang penuh tantangan, tetapi juga menjadi pengalaman hidup yang berharga. (Marwah)



