ADVERTORIALPendidikan

Tangan Guru di Papan Tulis dan Harapan dari Kandang Kuda

“Berdoalah kepada Allah untuk hal-hal di luar kendalimu, dan ikhtiarkan sesuatu yang ada dalam kendalimu. Sukses adalah jawaban atas keyakinan dan keseriusanmu,” Dr. Arif Hidayat, M.Pd.

———————

IKLAN

Aroma rumput yang baru disabit dan bau khas keringat kuda menjadi aroma yang akrab bagi Arif kecil setiap sore. Dengan tangan yang masih menghitam karena tanah sawah, ia harus memastikan hewan ternak yang menjadi tumpuan hidup keluarganya telah kenyang sebelum ia sendiri bisa menyentuh buku pelajaran di bawah lampu minyak. Di sebuah sudut desa tempat ia tumbuh, masa depan seolah-olah sudah dipetakan secara linier. Jika tidak menjadi petani, ia akan meneruskan tongkat estafet ayahnya sebagai seorang kusir kereta kuda.

IKLAN

Arif tumbuh dalam keluarga yang kaya akan prinsip namun terbatas secara material. Ayahnya adalah seorang pejuang jalanan, menarik benhur demi menyambung hidup. Sementara ibunya mengelola hasil bumi yang tak seberapa. Namun, di balik kepasrahan pada nasib ekonomi, orang tua Arif menyimpan keyakinan teguh yang kelak menjadi jangkar hidupnya. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar untuk mengubah keadaan dan hidup sejajar dengan orang lain.

IKLAN

Titik balik yang menentukan arah hidupnya justru datang dari sebuah momen sederhana di ruang kelas SMA. Suatu hari, di depan papan tulis yang penuh dengan angka, Arif berhasil memecahkan soal matematika yang rumit. Seorang guru matematika yang selama ini jarang meliriknya, berjalan mendekat dan meletakkan tangan di pundaknya. Tepukan itu ringkas, namun getarannya mengirimkan pesan kuat ke relung hati Arif. “Kamu mampu.” Momen itu adalah katalisator yang mengubah ragu menjadi keberanian untuk bermimpi melampaui batas-batas desa.

Keinginan untuk kuliah begitu membuncah. Namun Arif sempat memendamnya rapat-rapat. Menatap wajah lelah ayahnya sepulang menarik benhur membuatnya merasa egois jika harus meminta biaya kuliah. Ia sempat berpikir untuk merantau ke luar negeri sebagai pekerja migran demi membantu ekonomi keluarga. Namun, takdir membawanya ke STKIP Taman Siswa Bima.

Saat itu, kampus tersebut hanyalah sebuah gedung sederhana yang jauh dari citra universitas megah. Seorang tetangga menguatkan hatinya dengan kalimat yang selalu ia ingat, “jika Allah menghendaki kamu sukses, maka di manapun tempatnya, tidak akan menghambat jalanmu.”

Masa kuliah menjadi ujian kesabaran dan keyakinan. Di tengah isu keraguan mengenai status akreditasi kampus baru tersebut, Arif tetap melangkah. Ia memilih menutup telinga dari sinisme dunia dan mempercayai nasihat orang tuanya bahwa keikhlasan dalam belajar tidak akan pernah sia-sia. Ia terinspirasi oleh kegigihan almarhum H. Sudirman Ismail, pendiri kampus, yang menunjukkan bahwa visi besar bisa dibangun dari keterbatasan. Saat teman-temannya di kampus besar menerima beasiswa jutaan rupiah, Arif bersyukur menerima Rp1 juta di akhir studinya. Sebuah nominal kecil yang ia maknai sebagai rezeki yang telah diatur-Nya dengan presisi.

Langkah Arif menuju jenjang S2 dan S3 adalah pembuktian tentang keberanian mengambil risiko. Memutuskan lanjut S2 di tengah kondisi keluarga kecil yang belum stabil secara finansial adalah tantangan batin yang hebat. Namun, dukungannya mengalir dari almamaternya sendiri, STKIP Taman Siswa Bima, yang membantu biaya SPP-nya. Ketika melanjutkan ke tingkat Doktoral melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), Arif harus menghadapi tantangan administratif dan birokrasi, termasuk sempat tidak mendapatkan izin penuh dari pimpinan karena baru saja menjabat sebagai ketua Prodi.

Namun, tekadnya sudah bulat. Ia ingin membuktikan bahwa dosen dari wilayah Timur Indonesia mampu berdiri sejajar dengan akademisi dari Jawa.

Kini, ia kembali ke tanah kelahirannya bukan sebagai anak kusir yang ragu akan hari esok. Melainkan sebagai Dr. Arif Hidayat. Di koridor kampus yang dulu ia pandang dengan penuh keraguan, ia kini berjalan dengan misi besar. Ia ingin memastikan bahwa mahasiswa-mahasiswanya, yang mungkin memiliki latar belakang sesulit dirinya dulu, percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang pernah ada. Baginya, setiap mahasiswa di Bima adalah bibit unggul yang hanya butuh keyakinan untuk tumbuh menembus atap keterbatasan.

“Saya selalu percaya bahwa ketika kita memprioritaskan pendidikan, maka pendidikan akan memberikan manfaat balik kepada kita,” ungkap Arif dengan nada tenang namun penuh keyakinan.

Ia menekankan bahwa menghormati guru dan orang tua adalah kunci keberkahan ilmu yang ia peroleh. Baginya, kerja keras hanyalah bagian dari ikhtiar manusia, sementara doa adalah cara untuk mengetuk pintu-pintu yang berada di luar kendali kita.

Di balik gelar doktor yang kini melekat pada namanya, Arif tetaplah pribadi yang mengingat akarnya. Ia masih melihat dirinya sebagai anak yang menyabit rumput kuda, yang belajar bahwa ketangguhan tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari pilihan untuk terus maju meski pundak terasa berat. Perjalanannya bukan sekadar kisah sukses akademik, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana sebuah tepukan tangan di pundak oleh seorang guru dan doa tulus di atas kereta kuda bisa mengantar seseorang mencapai puncak ilmu pengetahuan. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button