Sebagian Wilayah NTB Dikepung Banjir
Mataram (NTBSatu) – Intensitas cuaca ekstrem berupa hujan lebat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), pada penghujung Februari 2026 memicu bencana banjir di hampir seluruh wilayah.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB serta pantauan NTBSatu, curah hujan di atas 100 milimeter prediksi dasarian menyebabkan pemukiman terendam, fasilitas publik rusak, dan melumpuhkan ekonomi.
Lombok Tengah
Bencana banjir yang dipicu hujan lebat juga terjadi di kawasan wisata prioritas, Desa Kuta, Kecamatan Pujut hingga merendam sejumlah titik vital pada Senin, 23 Februari 2026.
Berdasarkan informasi dari BPBD, ada sedikitnya 300 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir yang menyasar pemukiman warga. Dusun Baturiti dan Dusun Mong, menjadi area terparah dengan ketinggian air 50 sentimeter hingga 1 meter.
Kondisi ini menunjukkan kerentanan sistem drainase di kawasan pariwisata Mandalika, yang belum mampu menahan debit air ekstrem. Keadaan ini menghambat aktivitas ekonomi pariwisata lokal.
Kabar yang NTBSatu peroleh, banjir melanda tiga kecamatan di Lombok Tengah. Di antaranya, Kuta, Janapria dan Praya Barat.
Kabupaten Bima
Di Kabupaten Bima, Kecamatan Tambora, bencana banjir melanda enmpat desa dan berdampak pada 185 KK akibat luapan dari lereng gunung yang membawa material lumpur, pada Minggu, 22 Februari 2026.
Banjir ini merusak akses jalan desa sepanjang kurang lebih 500 meter, serta merendam rumah dan perabotan warga. Akibatnya, mobilitas lumpuh total.
Kerusakan infrastruktur menjadi hal yang paling disorot. Akses jalan lintas desa sepanjang kurang lebih 500 meter tertutup total oleh lumpur pekat, batu, dan sampah kayu.
Lumpur setinggi 40 sentimeter dilaporkan merusak perabotan rumah tangga milik warga. Sehingga, mengakibatkan kerugian materiil cukup besar bagi masyarakat.
Selain itu, 15 hektare lahan pertanian yang ditanami jagung dan kacang tanah, turut terdampak. Akibatnya, panen dipastikan gagal.
Kabupaten Sumbawa
Berdasarkan laporan dari BPBD Provinsi NTB, pada Sabtu, 21 Februari 2026, banjir melanda Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa pada pukul 14.00 hingga 19.00 Wita.
Dua desa terdampak, yaitu Desa Brang Kolong dengan 94 KK atau 253 jiwa dan Desa Muer dengan 12 KK atau 40 jiwa. Total keseluruhan sebanyak 106 KK atau 293 jiwa.
Saat ini, BPBD Sumbawa bersama dengan TNI/Polri sudah melakukan pendistribusian bantuan logistik untuk masyarakat terdampak.
Kabupaten Sumbawa Barat (KSB)
Banjir bandang pada Senin, 23 Februari 2026 menerjang empat desa di KSB, yaitu Desa Tamekan, Desa Sampir, Desa Seloto, dan Desa Labuhan Lalar hingga menyebabkan kerusakan infrastruktur fatal.
Luapan banjir merendam pemukiman warga dengan sejumlah 420 KK. Ketinggian air mencapai 60 sentimeter hingga 1,2 meter di titik terendah. Air juga turut membawa material kayu.
Selain pemukiman warga, banjir juga merobohkan tembok pembatas sekolah sepanjang puluhan meter. Kondisi ini membuat pihak sekolah, terpaksa meliburkan aktivitas belajar mengajar sementara waktu.
Banjir juga menyebabkan permasalahan di sektor agraris, karena lumpur yang merendam puluhan hektare sawah. Masalah ini memicu kekhawatiran gagal panen, bagi petani setempat.
Lombok Barat
Situasi serupa juga terjadi Lombok Barat karena banjir yang merendam dua kecamatan, yaitu Kecamatan Lembar dan Kecamatan Sekotong, pada Senin, 23 Februari 2026.
Di Kecamatan Sekotong, banjir berdampak pada 182 KK atau 708 jiwa. Sedangkan, di Kecamatan Lembar, BPBD masih melakukan pendataan.
Material kayu yang dibawa banjir berdampak pada aset warga, seperti ternak sapi yang terbawa arus. Selain itu, sebuah jembatan penghubung ambruk di Dusun Kembang Dese.
Putusnya mobilitas warga antar desa membuat mobilitas putus total. Akibatnya, distribusi logistik bantuan cukup sulit dan memanfaatkan jalur alternatif yang lebih jauh.
Lombok Timur
Banjir juga menerjang Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, pada Sabtu, 21 Februari 2026. Tercatat 215 KK terendam banjir bandang. Ketinggian banjir dilaporkan bervariasi hingga sepaha orang dewasa.
Bencana ini juga berdampak pada program pemerintah, yaitu fasilitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), mengalami kerusakan setelah terendam banjir. Kondisi ini memicu berhentinya distribusi MBG untuk anak-anak di wilayah itu.
Luapan sungai akibat banjir juga merendam jalan lintas, di bagian utara Lombok Timur. Akibatnya, akses transportasi terganggu karena genangan air, dan material kayu yang terbawa arus.
Mitigasi Lanjutan Pemerintah
Pemerintah Provinsi NTB melalui BPBD, terus memberikan imbauan pada masyarakat untuk waspada di sisi Februari. Karena intensitas hujan mencapai 80 hingga 90 persen dengan risiko banjir susulan.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengimbau masyarakat tetap waspada dengan cuaca ekstrem.
“Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana diimbau agar terus waspada dan siaga, terutama saat terjadi hujan lebat,” ujar Forecaster on duty BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Nur Siti Zulaichah, S.Tr., kepada NTBSatu, Selasa, 24 Februari 2026. (Inda)


