Tantangan Sekolah Rakyat di Sumbawa, Siswa Ditarik Pulang Orang Tua untuk Cari Uang
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Program Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumbawa yang rencananya sebagai solusi pengentasan kemiskinan, justru menghadapi tembok besar.
Ironisnya, kendala utama bukan datang dari anggaran. Melainkan, dari para orang tua yang menarik paksa anak mereka keluar dari bangku sekolah demi membantu mencari nafkah.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa, Syarifah mengungkapkan, persoalan ekonomi dan pola pikir tradisional menjadi pemicu utama anak-anak tersebut kehilangan hak pendidikannya.
”Berbagai persoalan muncul, ada yang masih mempekerjakan anaknya, suruh jaga adiknya. Ada yang memang diajak anaknya untuk bekerja mencari uang,” ungkap Syarifah kepada NTBSatu, Selasa, 3 Februari 2026.
Syarifah menjelaskan, pihaknya tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Petugas pendamping sosial secara rutin melakukan kunjungan rumah untuk memberikan edukasi.
Dalam pertemuan tersebut, Dinas Sosial menekankan, kehadiran anak di sekolah justru akan meringankan beban finansial orang tua. Sebab, seluruh biaya hidup anak negara tanggung.
”Kami sampaikan, kalau anak disekolahkan di sana, semua tidak perlu ibu tanggung. Dari makanan, pakaian, buku, semua gratis. Bahkan orang tuanya akan dibantu pemerintah, rumah direnovasi dan diberi modal usaha. Di awal mereka bilang ‘iya’, tapi setelah kami pulang, pikiran mereka berubah lagi,” jelasnya.
Menurut Syarifah, salah satu hambatan psikologis yang paling sulit pemerintah daerah tembus adalah prinsip hidup yang enggan berpisah dengan anak, meski harus hidup dalam keterbatasan.
”Ada pola pikir ‘biarpun makan garam yang penting sama orang tua’. Prinsip seperti itu yang masih melekat di antara masyarakat tidak mampu. Susah berkembang kalau begitu,” tegasnya.



