Hj. Suharni 73 Tahun: Menandur Keyakinan, Memanen Semangat Belajar Seumur Hidup
Hari ini, cuaca tidak terlalu panas di STKIP Taman Siswa Bima, langkah kecil seorang perempuan lanjut usia, memecah ketenangan. Hj. Suharni, S.Pd., 73 tahun, berjalan mantap memasuki ruang seleksi Magister (S2) Pedagogi STKIP Taman Siswa Bima. Tangannya mengepal, bukan sekedar menggenggam tasbih, melainkan janji yang telah lama ia ucapkan berkali-kali dari panggung sebagai dewan pembina. Bahwa bila kampus membuka program S2, ia akan mendaftar pertama.
———————
Kisahnya sederhana namun sarat makna. Sebagai istri almarhum pendiri kampus dan salah satu wisudawan angkatan pertama, Hj. Suharni bukan hanya bagian dari sejarah institusi. Ia selama ini menjadi penjaga semangat yang menular kepada civitas akademika. Pada setiap sambutan, ia tak henti mengingatkan mahasiswa dan dosen untuk terus mengejar ilmu. “Belajar itu tidak kenal umur,” begitu nadanya. Tegas, lembut, dan penuh keyakinan.
Kalimat-kalimat itu bukan retorika. Di beberapa momen wisuda STKIP Taman Siswa Bima, Hj. Suharni seakan “menandur” keyakinan, bahwa suatu hari kampus akan memiliki jenjang S2. Ia bahkan berkelakar sekaligus serius, “Umi adalah angkatan pertama yang juga wisuda di angkatan pertama di STKIP Taman Siswa Bima. Jika sudah ada S2, umi juga akan menjadi calon mahasiswa yang akan mendaftar pertama. Mendaftar dan membayar. Tidak gratis.” Gelak tawa selalu menyusul. Namun ada nada yang tak bisa disangkal. Komitmen.



