ADVERTORIALPendidikan

Hj. Suharni 73 Tahun: Menandur Keyakinan, Memanen Semangat Belajar Seumur Hidup

Prodi S2 Pedagogi STKIP Taman Siswa Bima

Janji itu diuji waktu, birokrasi, dan sejumlah tantangan dalam pengembangan program pascasarjana di perguruan tinggi kecil. Namun pada 30 Januari 2026 langit seolah terbuka. Prodi S2 Pedagogi resmi menerima pendaftaran dan melaksanakan seleksi untuk angkatan pertama. Bagi banyak orang itu mungkin hanya catatan administrasi. Bagi Hj. Suharni, itu jawaban doa, dan ia pun menepati kata-katanya. Mendaftar lebih dulu dari siapa pun.

Reaksi kampus pun hangat. Para dosen menyalami, mahasiswa muda menatap penuh kagum, dan panitia seleksi mengabadikan momen itu. Bukan sekadar formalitas, tetapi simbol kontinuitas nilai. “Umi menunjukkan bahwa belajar bukan monopoli muda. Ia adalah sikap hidup,” ujar Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si.

Simbol Tanggung Jawab Ilmu

Di balik langkah mantap itu ada cerita kehidupan yang patut direnungkan. Menjadi bagian dari keluarga pendiri kampus menempatkan Hj. Suharni dalam posisi yang unik. Pilar yang menghimpun harapan dan sejarah. Namun yang membuat kisahnya mengena adalah pilihan aktifnya untuk terus menjadi pelajar. Meski masa hidupnya telah penuh masa dan tugas, sebagai seorang guru. Bagi perempuan yang tidak pernah bolos mengajar itu, gelar bukan sekadar formalitas. Ia adalah simbol tanggung jawab terhadap ilmu dan komunitas.

Bagaimana seorang perempuan berusia 73 tahun memaknai belajar? Bukan dengan kata-kata tinggi, melainkan dengan tindakan sehari-hari. Di sela-sela aktivitas sebagai dewan pembina, Hj. Suharni meng-khatam Alquran berkali-kali, dan kerap hadir pada acara akademik.

Makna yang ia tanam lebih jauh daripada ambisi pribadi. Menjadi pendaftar pertama S2 Pedagogi adalah pernyataan moral. Bahwa, kesempatan belajar harus tersedia untuk semua usia dan latar belakang. Di era ketika stigma usia masih kerap menghalangi partisipasi pendidikan lanjutan, tindakan Hj. Suharni menawarkan narasi alternatif. Bahwa akses dan kemauan adalah modal utama, bukan sekadar angka tahun. (*)

Laman sebelumnya 1 2

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button