Olahraga

Petinju Legendaris asal NTB Eks Lawan Manny Pacquiao Merasa Lebih Dihargai di Surabaya

Mataram (NTBSatu) – Petinju legendaris asal Sila, Kabupaten Bima, Provinsi NTB, M. Yani Muhammad atau Yani Malhendo mengungkapkan, ketidakpuasannya pada daerah kelahirannya.

Yani yang pernah mengalahkan lawan di berbagai dunia, seperti Las Vegas hingga Jepang ini justru mengaku lebih merasa dihargai di Surabaya daripada daerah asalnya.

Awalnya, Yani menceritakan perjuangan awalnya yang tidak mendapat dukungan dari semua orang, termasuk orang tua dan pemerintah setempat.

Namun karena keinginannya yang kuat pada dunia tinju, ia sejak SMP mulai berlatih secara mandiri secara otodidak melalui buku maupun video.

IKLAN

Motivasi utamanya hanya karena ingin menjadi petinju NTB pertama yang bisa mencapai kancah dunia. Dengan tekad yang kuat, ia memulai perjalanan dengan merantau ke Jawa.

“Saya ke Jawa tujuannya untuk kuliah, tapi semua biaya hidup saya tanggung sendiri. Dulu orang Bima atau NTB jangankan didukung, dilirik saja tidak pernah,” katanya kepada NTBSatu, Senin, 26 Januari 2026.

Puncak Karier Melawan Manny Pacquiao

Setelah melewati banyak pertentangan, Yani justru mendapatkan kejayaan pada bidang tinju. Ia berhasil mencapai puncak kariernya setelah berhadapan dengan petarung dunia, Manny Pacquiao alias Pac Man.

Saat itu, Yani lebih dulu mendapat gelar juara Dunia World Boxing Council (WBC) Intercontinental, sedangkan Pac Man berada jauh di bawahnya. Sehingga, ia sempat memukul telak dan menang setelah melewati ronde kedua.

“Waktu itu dia mau mencoba, saya datangin aja. Saya hajar sampai ronde kedua, mati kutu. Saat itu, di mata saya, dia belum ada apa-apanya,” ujarnya.

Enggan Pulang ke NTB

Memiliki segudang prestasi tingkat internasional, Yani menyatakan rasa enggannya untuk kembali dan menetap di NTB, khususnya Bima.

Alasan utamanya karena kurangnya kepedulian pemerintah daerah terhadap prestasi atlet yang sudah mengharumkan nama daerahnya. Baginya, ia lebih merasa dihargai saat tinggal di Jawa.

Meski tidak berasal dari tanah Jawa, Yani mengaku lebih merasa dihargai dan diakui sebagai seorang mantan juara dunia daripada di daerah asalnya.

Menurut pengakuannya, baik Pemda NTB terutama Pemerintah Bima sama sekali tidak menunjukkan keinginan dan minat di dunia olahraga tinju. Hal ini yang membuatnya enggan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

“Ngapain saya pulang? Apa yang dicari di sana? Pemda NTB apalagi Bima tidak ada yang melirik tinju. Baunya saja tidak ada,” tegasnya.

Melihat peluang olahraga tinju di daerah yang tidak jelas, Yani berpesan agar para anak muda mencari pengalaman di luar daerah. Bahkan sampai luar negeri. Sebab, menurutnya sistem pendukung di daerah tidak memadai.

“Jangan jago di kandang. Kalau berharap sama Pemda, ya susah majunya,” jelasnya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button