Suporter PS Daygun Kritik Fasilitas dan Keamanan Liga 4 NTB, Bandingkan dengan Tragedi Kanjuruhan
Mataram (NTBSatu) – Suporter PS Dayan Gunung (Daygun) mengkritik serius, risiko fasilitas dan keamanan buruk dalam pelaksanaan Liga 4 NTB kepada Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI NTB.
Ketua Suporter Daygun, Marianto menyampaikan kritikan tersebut dalam pertemuan di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB yang dihadiri perwakilan Asprov PSSI NTB dan Plt Kepala Dinas Dikpora NTB.
Sorotan utama mengarah pada buruknya pengelolaan keamanan stadion. Marianto menilai, tata kelola penonton tidak memenuhi standar keselamatan dasar.
“Gerbang dan tangga masuk itu menumpuk orang. Kita antisipasi jangan sampai terjadi gesekan seperti yang terjadi di Malang (Kanjuruhan),” katanya, Selasa, 18 Februari 2026.
Selain akses penonton, Suporter PS Daygun juga mengkritik lemahnya pengamanan di area internal stadion. Ia menyebut, ruang ganti pemain bebas akses untuk semua orang yang tidak berkepentingan.
“Ruang ganti tidak ada safety security management-nya. Orang yang tidak dikenal bisa masuk, kita takut pemain diapa-apakan,” ujarnya.
Di luar isu keamanan, Marianto menilai penyelenggaraan Liga 4 NTB bermasalah dari sisi profesionalitas perangkat pertandingan. Ia menyebut, kualitas wasit dan manajemen pertandingan belum layak untuk kompetisi resmi.
“Dari sisi safety security management-nya kita lihat amburadul dan soal wasit serta perangkat pertandingan kami nilai kurang profesional,” tegasnya.
Ultras PS Dayan Gunung juga mendesak perbaikan fasilitas pertandingan, khususnya revitalisasi GOR Turida. Menurut Marianto, antusiasme sepak bola di NTB meningkat tajam namun tidak diimbangi dengan kapasitas dan kualitas stadion.
“Sepak bola NTB ini menggeliat luar biasa. Pada event berikutnya kita berharap GOR ini diperbarui dan diperbesar pada tribunnya,” katanya.
Terkait pembinaan jangka panjang, Marianto meminta sinergi antara Asprov, KONI, dan Gubernur NTB agar pembinaan pemain muda dilakukan secara terencana dan berkelanjutan di level nasional.
Tanggapan Dikpora NTB
Menanggapi kritik tersebut, Plt Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Dinas Dikpora NTB, Agus Sukmayadi mengakui, panitia Liga 4 NTB belum siap mengantisipasi lonjakan penonton.
“Apa yang disampaikan itu normal, jujur panitia tidak siap mengantisipasi karena situasinya tidak pernah terduga dengan tingkat keramaian yang sebelumnya biasa-biasa saja,” ujarnya.
Terkait fasilitas, Agus memastikan pemerintah provinsi telah memproses revitalisasi GOR 17 Desember sebagai bagian dari persiapan PON 2028 mendatang.
Pada aspek lain, ia juga mendorong pemerintah kabupaten, termasuk Lombok Utara, menyediakan stadion mini representatif guna menampung tingginya minat masyarakatnya terhadap sepak bola.
“Akan sangat bagus ketika di (Lombok) Utara juga ada sebuah stadion mini yang representatif untuk menampung minat teman-teman,” katanya.
Menurutnya, dinamika Liga 4 NTB dapat menjadi pijakan awal pengembangan industri olahraga daerah. Seluruh masukan akan dikaji agar penyelenggaraan Liga 4 NTB ke depan lebih aman dan profesional.
“Mudah-mudahan menjadi langkah awal bahwa sepak bola kita bisa menjadi industri dan bisa berjalan dengan dirinya sendiri,” tambahnya. (Alwi)



