Angka Kemiskinan KSB 2025 Turun Drastis, tapi Pengangguran Justru Naik
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), merilis perkembangan indikator kemiskinan dan ketenagakerjaan untuk periode 2025. Data terbaru menunjukkan tren positif pada penurunan angka kemiskinan, namun di sisi lain terdapat tantangan pada sektor penyerapan tenaga kerja lokal.
Kepala BPS KSB, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani memaparkan, angka kemiskinan mencatatkan penurunan yang cukup signifikan. Pada 2025, persentase penduduk miskin berada di angka 10,98 persen, turun signifikan dari 2024 yang mencapai 12,23 persen.
Penurunan Angka Kemiskinan
Penurunan sebesar 1,25 persen ini menjadi indikator, pertumbuhan ekonomi di Sumbawa Barat mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat lapisan bawah. Alit menyebutkan, penurunan ini tergolong tinggi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
“Kalau kemiskinannya turun, lumayan tinggi penurunannya. Di tahun 2025 itu 10,98 (persen), sementara 2024 itu 12,23 (persen). Jadi ada penurunan sekitar 1,25 persen,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 16 Maret 2026.
Keberhasilan menekan angka kemiskinan hingga menyentuh angka 10 persen menunjukkan, adanya efektivitas dalam berbagai program penguatan ekonomi di daerah. Data ini menjadi basis penting bagi pemerintah daerah, untuk mempertahankan tren kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Tantangan Ketenagakerjaan
Berbanding terbalik dengan data kemiskinan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di KSB justru mengalami kenaikan. Berdasarkan catatan BPS, angka pengangguran pada 2025 menyentuh 4,13 persen, meningkat sebesar 1,03 persen dari 2024 yang berada di angka 3,10 persen.
“Untuk tingkat pengangguran di KSB tahun 2025 itu meningkat, naik daripada tahun 2024. Jadi kalau 2025 itu 4,13 persen, itu naik dari 2024 yang sebesar 3,10 persen,” jelasnya.
Alit menjelaskan, kenaikan ini salah satunya dipicu oleh adanya kesenjangan antara kriteria teknis yang dibutuhkan industri besar di KSB dengan kualifikasi tenaga kerja yang tersedia. Industri strategis, seperti pertambangan memiliki standar pemenuhan tenaga kerja yang sangat spesifik.
“Angka pengangguran meningkat, karena adanya kriteria-kriteria khusus dalam pemenuhan tenaga kerja di perusahaan yang belum bisa sepenuhnya terpenuhi,” tambahnya. (Andini)



