Dinas Kesehatan Mataram Kaji Ubi Jadi Menu MBG
Mataram (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, tengah melakukan kajian mendalam terkait penggunaan ubi sebagai salah satu komponen karbohidrat, dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah.
Meski memiliki nilai gizi yang baik, aspek psikologis dan budaya konsumsi masyarakat menjadi pertimbangan utama.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. Emirald Isfihan mengungkapkan, pihaknya akan menggandeng Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) untuk menilai secara teknis kandungan nutrisi ubi.
Ia menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang merasa belum kenyang jika belum mengonsumsi nasi. Sehingga, khawatirnya dapat memengaruhi kondisi fisik siswa di sekolah.
“Kami sarankan agar diperhatikan, karena kultur kita di Indonesia ini kalau belum makan nasi dianggap tidak kenyang. Takutnya itu mengganggu secara pencernaan siswa kita. Ada yang merasa tidak kenyang, lalu nanti menjadi maag dan lain-lain,” ujarnya, Senin, 19 Januari 2026.
Kekhawatiran ini semakin beralasan, mengingat penerapan kebijakan lima hari sekolah yang membuat siswa berada di sekolah hingga sore hari. Tanpa asupan karbohidrat yang “mengenyangkan” secara kultur, ia khawatir siswa akan kekurangan energi.
“Kita khawatirkan nanti sampai sore malah pingsan anaknya karena merasa belum kenyang,” tambahnya.
Dukungan Orang Tua: Ubi Lebih Baik dari Roti Bergluten
Berbeda dengan kekhawatiran dari sisi medis terkait rasa kenyang, Suharni, orang tua dari dua siswa penerima MBG, justru menyambut baik rencana penggunaan ubi dan singkong.
Menurutnya, langkah ini sangat positif untuk mengenalkan beragam jenis pangan kepada generasi muda agar tidak hanya bergantung pada nasi.
“Sebenarnya tidak masalah dengan ubi atau singkong karena diversifikasi pangan itu bagus, jangan ketergantungan dengan nasi saja. Agar anak-anak sekarang bisa tahu banyak makanan,” ungkap Harni, Senin, 19 Januari 2026
Ia juga menekankan kunci keberhasilan menu ubi ini terletak pada cara pengolahan dan variasinya. Menurutnya, ubi jauh lebih sehat daripada produk olahan tepung.
“Asalkan diolah dengan cara yang baik, kemudian divariasikan, misalnya jadi jajanan pasar, kan itu lebih baik daripada roti-roti yang mengandung gluten yang tidak mudah dicerna tubuh,” jelasnya. (*)



