Sekolah di Mataram Libatkan Orang Tua Cegah Siswa Salah Jurusan saat SNBP 2026
Mataram (NTBSatu) – Menjelang Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, sejumlah SMA di Kota Mataram memperkuat pendampingan siswa dengan melibatkan orang tua. Tujuannya, untuk mencegah kesalahan pemilihan jurusan saat mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Salah satu sekolah yang menerapkan pendekatan tersebut adalah SMAN 3 Mataram. Sekolah berakreditasi A ini berhak mengusulkan hingga 40 persen siswa eligible atau yang memenuhi syarat melalui SNBP.
Sesuai jadwal SNBP 2026, pengumuman kuota pada 29 Desember 2025, pendaftaran tanggal 3–18 Februari 2026. Kemudian, hasil seleksi 31 Maret 2026 dan unduh kartu peserta hingga 30 April 2026.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 3 Mataram, Yuspita Martiningrum, S.Pd., mengatakan, pendampingan tidak hanya berfokus pada kesiapan akademik siswa. Tetapi juga, pada proses penentuan jurusan kuliah dengan melibatkan orang tua sejak awal.
“Setelah penjaringan siswa eligible, pendampingan dengan melibatkan siswa dan orang tua melalui sesi komunikasi dan wawancara. Agar pilihan jurusan sesuai minat dan kemampuan siswa,” ujar Yuspita kepada NTBSatu, Sabtu, 3 Januari 2026.
Orang Tua dan Siswa Kerap Berbeda
Pihak sekolah mengambil langkah ini karena kerap menemui perbedaan pandangan antara siswa dan orang tua, termasuk kebingungan siswa dalam menentukan jurusan. Dengan melibatkan orang tua, sekolah berharap tercapai keselarasan antara potensi akademik siswa dan dukungan keluarga.
“Sering terjadi perbedaan pandangan antara siswa dan orang tua soal pilihan jurusan. Karena itu, kami melibatkan orang tua agar tercapai kesepahaman, sekaligus mengedukasi dan mempertimbangkan rekomendasi mereka,” tambah Yuspita.
Menurutnya, pelibatan orang tua dalam diskusi dan wawancara pemilihan jurusan penting agar keputusan akademik tidak semata didorong keinginan sesaat. Tetapi, dukungan keluarga serta selaras dengan minat dan kapasitas siswa menuju PTN.
Lebih lanjut, Yuspita menegaskan, Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak menjadi tolok ukur tunggal dalam menilai kesiapan siswa mengikuti SNBP. Menurutnya, sekolah lebih menitikberatkan pada konsistensi nilai rapor sebagai cerminan kemampuan akademik siswa secara menyeluruh.
“Hasil TKA itu sifatnya validasi saja. Kami juga melihat dari rapor, kalau rapornya baik, insyaAllah hasil tes juga akan selaras. Itu yang bisa kami jamin” tutup Yuspita. (Alwi)



