Waspada, Bibit Siklon Tropis Pemicu Badai Muncul di Selatan NTB
Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan curah hujan di wilayah NTB sepanjang periode tanggal 12 hingga 18 Desember 2025.
Kondisi tersebut muncul setelah Bibit Siklon Tropis 93S berkembang di Samudra Hindia Selatan NTB. Sistem atmosfer itu bergerak perlahan ke arah Barat–barat Daya dan mendorong ketidakstabilan cuaca yang semakin kuat di kawasan tersebut.
“Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia Selatan NTB yang berpotensi meningkatkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT,” ungkap Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, pada Kamis, 11 Desember 2025.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan lebat yang tumbuh dari aktivitas 93S selama sepekan ke depan.
Prospek Cuaca Seminggu ke Depan
BMKG memantau, pusat sirkulasi 93S yang memiliki kecepatan angin sekitar 15 knot dan tekanan minimum 1009 hPa. Awan konvektif di sekitar sistem tumbuh lebih intens sejak kemunculannya pada 11 Desember.
Suhu muka laut yang hangat di Selatan NTB, memberi suplai energi yang memperkuat pembentukan awan hujan.
Guswanto menjelaskan, gelombang Equatorial Rossby serta gelombang low frequency yang aktif di sekitar NTB mendorong peningkatan peluang hujan intensitas sedang hingga lebat.
Kelembapan udara di lapisan menengah memang belum merata, tetapi dinamika angin serta suhu laut tetap menghasilkan pertumbuhan awan hujan yang lebih kuat dalam 48–72 jam mendatang.
Oleh karena itu, selama tanggal 12–18 Desember 2025, BMKG memperkirakan hujan sedang hingga lebat mengguyur wilayah NTB.
Curah hujan tinggi tersebut mampu memicu banjir, genangan, serta longsor pada wilayah rawan. Karena itu, pemerintah daerah perlu meningkatkan pemantauan sungai, lereng rawan, serta jalur yang sering terdampak cuaca ekstrem setiap musim hujan.
“Peningkatan curah hujan dengan intensitas lebat berpotensi meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor di wilayah rawan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan pentingnya untuk menerapkan berbagai langkah mitigasi dan antisipasi. “Perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi dan antisipasi, seperti peningkatan kewaspadaan masyarakat, pemantauan kondisi sungai dan daerah rawan longsor dan banjir. Serta koordinasi dengan pihak terkait, untuk meminimalkan potensi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul,” tambahnya. (*)



