Cerita Adik Korban Dugaan Pencekikan di Lombok Tengah: Kakak Saya Sempat Dikurung, Disiksa

Mataram (NTBSatu) – Adik korban dugaan pencekikan di Lombok Tengah, Yulistia menyampaikan cuhat menyayat hati setelah kakaknya meninggal di tangan suaminya sendiri.
Yulistia merasa kecewa, karena banyak orang menyebarkan komentar negatif dan menyudutkan kakaknya yang sudah tiada.
Dalam keterangannya, ia mengungkapkan, kakaknya inisial BMPF (28) mengalami penderitaan luar biasa selama pernikahannya. Sering menerima kekerasakan fisik dan verbal, bahkan sejak awal menikah.
“Pelaku sangat pintar menyembunyikan ekspresi. Dia tidak pernah terlihat menyakiti kakak saya di depan orang. Hanya anak-anaknya yang menjadi saksi, berapa kali ibunya dicaci maki, dibentak, direndahkan, dikasarin. Mereka juga yang menjadi saksi ketika ibunya dicekik dan dipelintir tangannya ke belakang karena si pelaku merasa cemburu dengan adik sepupu,” ungkap Yulistia, Selasa, 5 Agustus 2025.
Dihalangi Bertemu
Suatu hari, Yulistia mencoba menyetorkan hasil jualan nasi liwet ke kakaknya. Saat itu, suami kakaknya inisial FA (36) menghalanginya bertemu dengan alasan korban sedang tidur.
“Saya yang ingin menyetor uang hasil penjualan nasi liwet bakar ke kakak saya langsung, membuka sekat kamar. Tapi (terduga) pembunuh itu lari kecil menyusul dan menghalangi saya,” jelasnya.
Tindakan itu memicu kecurigaannya, karena pelaku langsung berdiri di depan kamar dan melarang masuk. Beberapa waktu kemudian, korban ditemukan telah meninggal dunia.
Menurut Yulistia, kakaknya pernah dikurung dalam rumah tanpa makanan. Bahkan, ibu mertuanya pernah memberikan nasi lewat jendela rumah.
“Ibu saya membeli motor untuk kakak saya, namun digunakan oleh dia. Ketika kakak saya mau menggunakan motor, dia marah dan mengurung kakak saya di rumah dengan kondisi tidak ada nasi atau lauk,” tambahnya.
Terduga pelaku FA juga melarang kakaknya menggunakan uang hasil jerih payah sendiri. Termasuk untuk membeli makanan, pakaian, atau keperluan anak-anak.
“Jika kakak saya menggunakan uang hasil jerih payahnya sendiri untuk membeli mainan untuk anaknya, makanan untuk diri sendiri, baju atau pakaian. Dia selalu berkata buat apa buang-buang uang untuk hal seperti itu, lebih baik kamu pakai uangmu buat beli listrik,” lanjutnya.