
Oleh: Sambirang Ahmadi
Pimpinan pusat PKS telah mengumumkan struktur baru PKS tingkat provinsi seluruh Indonesia. Termasuk NTB. Yang menarik bukan siapa yang terpilih. Tapi bagaimana proses itu berjalan.
Tenang. Adem. Tidak ada manuver. Tidak ada saling sindir. Tidak ada rebutan kursi. Kalau tidak diumumkan resmi, mungkin banyak yang tidak sadar PKS sedang ganti pengurus.
Inilah yang saya sebut sebagai demokrasi adem ala PKS: demokrasi tanpa drama.
PKS memang sejak awal bukan partai gaduh. Pergantian kepemimpinan sudah pakai sistem. Tidak bergantung figur. Tidak tunggu momen. Bila tiba waktunya, ya ganti. Dan tidak ada friksi internal yang bocor ke publik. Yang ada: proses. Yang naik: kader. Yang ganti: juga kader.
Ini mungkin tidak heboh, tapi justru itulah kekuatannya. PKS punya kultur tenang. Tapi jalannya konsisten.
Lihat saja rekam jejaknya di NTB. Sejak 2009, PKS selalu masuk jajaran pimpinan DPRD Provinsi NTB. Sejak NTB pecah dua dapil DPR RI 2019, PKS selalu dudukan 2 wakil di pusat.
Sekarang, PKS juga duduk sebagai pimpinan DPRD di berbagai kabupaten/kota strategis:
– Kota Mataram
– Lombok Barat
– Lombok Tengah
– Lombok Timur
– Dan di Sumbawa, PKS bahkan memegang kursi Ketua DPRD.
Artinya, ini bukan sekadar partai ideologis. Tapi partai yang dipercaya rakyat. PKS bukan hanya bicara nilai, tapi juga hadir di ruang pengambilan keputusan.
Sebagai kader dan pejabat publik dari PKS, saya melihat ini sebagai kekuatan—tapi juga PR besar. PKS tidak bisa hanya andalkan loyalis. Tidak bisa hanya main di basis lama. Kalau PKS ingin menang lebih besar ke depan: harus berani menjemput segmen baru.
Terutama anak muda.
Gen Z, milenial, pemilih pemula. Mereka bukan cuma calon pemilih. Tapi penentu masa depan. Dan mereka tidak suka gaya politik lama. Mereka tidak tertarik partai yang eksklusif. Mereka mau yang terbuka. Fleksibel. Otentik. Digital.
Itu tantangan untuk pengurus baru. Kalau ingin tumbuh, PKS harus masuk ke ruang-ruang anak muda. Bukan hanya ngajak ngaji. Tapi juga bicara soal kerja, lingkungan, teknologi, bahkan musik. PKS perlu bahasa baru, gaya baru, pendekatan baru—tanpa kehilangan ruh.
Karena PKS bukan hanya partai dakwah. Tapi juga partai publik. Dan publik kita hari ini sudah berubah.
Maka regenerasi bukan cuma soal siapa yang naik. Tapi siapa yang mau berubah. Siap kendalikan arah. Siap kelola tantangan. Penuhi harapan publik demi mendulang kepercayaan. Dan, ini yang tak kalah penting: ngerti maunya kader.
Saya percaya, pengurus baru punya potensi ke arah itu. Ketua DPW-nya muda, segar. Ketua MPW-nya matang pengalaman. Ketua DSW-nya senior bijaksana. Dan, seluruh jajaran DPTW-nya matang pengalaman. Mereka semua lahir dari rahim gerakan dakwah. Proses kaderisasinya tuntas. Tinggal bagaimana menata keberanian keluar dari cara lama, dan menggarap generasi baru dengan cara baru.
Kalau itu bisa dilakukan, PKS tidak hanya selalu tenang. Tapi berhak panen kemenangan.
Pengurus baru harus lebih baik kimerjanya dari yang lalu. Itu PR bagi setiap pengurus baru. Semoga!