BMKG Catat 3 Wilayah di NTB Alami Kekeringan Ekstrem

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada tiga wilayah di Provinsi NTB mengalami kekeringan ekstrem sepanjang tahun 2024.
Ketiga wilayah tersebut masuk dalam daftar 10 besar nasional Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia.
Berdasarkan data BMKG, Kecamatan Sape di Kabupaten Bima menjadi wilayah paling terdampak, dengan 214 hari tanpa hujan, menjadikannya wilayah paling kering di Indonesia tahun 2024.
Dua wilayah lainnya di NTB yang juga terdampak kekeringan ekstrem adalah Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa dengan 196 hari tanpa hujan. Serta, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur dengan 174 hari tanpa hujan.
BMKG mendefinisikan Hari Tanpa Hujan (HTH) sebagai hari di mana curah hujan berada di bawah 1 milimeter atau tidak terjadi hujan sama sekali. Durasi HTH yang melampaui 150 hari sudah masuk dalam kategori kekeringan ekstrem, karena sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih, pertanian, hingga potensi kebakaran lahan.
Kondisi ini membuat NTB menjadi provinsi dengan jumlah wilayah terdampak kekeringan ekstrem terbanyak dalam daftar 10 besar nasional.
Beberapa wilayah di provinsi lain juga masuk daftar, namun dengan durasi HTH yang lebih
rendah dibandingkan NTB.
“NTB mendominasi daftar wilayah paling kering tahun ini. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dampaknya sangat luas, baik dari sisi sosial maupun ekonomi,” demikian pernyataan BMKG dalam laporan resminya.
Adapun 10 Besar Wilayah dengan HTH Terpanjang di Indonesia 2024, antara lain
- Sape, Bima (NTB) – 214 hari
- Pohjentrek, Pasuruan (Jatim) – 206 hari
- Pokaan, Situbondo (Jatim) – 198 hari
- Moyo Hilir, Sumbawa (NTB) – 196 hari
- Wongsorejo, Banyuwangi (Jatim) – 188 hari
- Swela, Lombok Timur (NTB) – 174 hari
- Tejakula, Buleleng (Bali) – 159 hari
- Kota Raja, Kupang (NTT) – 151 hari
- Kintamani, Bangli (Bali) – 140 hari
- Cikaum, Subang (Jabar) – 128 hari. (*)