DPRD NTB Dorong Perbaikan Irigasi dan Bendungan untuk Dukung Ketahanan Pangan

Mataram (NTBSatu) – Program ketahanan pangan yang tengah Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan gaungkan turut menjadi perhatian di Provinsi NTB.
Sebagai daerah lumbung pangan nasional, khususnya untuk komoditas jagung dan pagi, NTB dinilai membutuhkan perhatian serius dalam penguatan infrastruktur pertanian.
Anggota DPRD NTB, Muhammad Aminurlah mendorong Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten/Kota memberikan dukungan nyata melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian.
Menurutnya, percepatan produksi pangan harus dibarengi dengan perbaikan infrastruktur seperti jaringan irigasi, bendungan, dan pengadaan alat mesin pertanian (alsintan).
“Saya mendukung program ketahanan pangan oleh pemerintah pusat, tapi harusnya dibarengi dengan perbaikan-perbaikan jaringan irigasi maupun bendungan yang ada di NTB. Serta pengadaan alsintan seperti traktor, alat pemotong padi, dan lainnya,” tegasnya Maman, sapaannya, Rabu, 16 Juli 2025.
Ia menyoroti lambannya respons pemerintah daerah terhadap kerusakan infrastruktur pertanian, seperti yang terjadi di Bima. Menurutnya, kondisi irigasi dan bendungan yang rusak telah berdampak serius pada kehidupan petani.
“Kerusakan infrastruktur pertanian yang dibiarkan berlarut-larut telah berdampak serius terhadap kehidupan petani,” ujarnya.
Sistem Irigasi Tidak Berfungsi, Petani Jadi Korban
Maman mengungkapkan, hasil pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Di Kecamatan Ambalawi, misalnya, terdapat tujuh bendungan yang mengalami kerusakan parah.
“Lima tahun terakhir tidak ada yang diperbaiki. Apalagi setelah banjir bandang kemarin, kondisinya tidak bisa dipakai lagi,” katanya.
Kondisi serupa juga ia temukan di Kecamatan Wera dengan jumlah kerusakan yang sama. Ia menyayangkan lambannya tindakan pemerintah dalam menangani hal ini.
“Kasihan masyarakat. Ini alasan saya intens bersuara dalam sidang paripurna. Bagaimana kita mau bicara pengentasan kemiskinan, kalau kebutuhan dasar petani saja tidak dipernui?,” ujar Mantan Anggota DPRD Bima tiga periode ini.
Menurutnya, para petani kini kesulitan bercocok tanam karena sistem irigasi yang tidak berfungsi. Hal ini berdampak langsung terhadap produksi pertanian, yang biasanya bisa mencapai tiga hingga empat kali panen dalam setahun.
“Masyarakat seharusnya sudah panen. Tapi sudah beberapa bulan ini mereka tidak bisa membajak sawah karena irigasinya tidak berfungsi. Biasanya mereka panen tiga sampai empat kali setahun, sekarang tidak bisa sama sekali,” tuturnya.