Lemahnya Manajemen Risiko TI-Munculnya Gangguan Siber Jadi Tantangan Pengurus Baru Bank NTB Syariah

Tantangan Menanti Pengurus Baru Bank NTB Syariah
Meski tercatat memiliki kinerja keuangan yang sehat, Komisi III DPRD merangkum sejumlah catatan untuk dicarikan solusinya oleh Pengurus Baru Bank NTB Syariah ke depan.
Pertama, adanya gangguan transaksi online hingga saat ini murni akibat kejahatan siber (cyber crime) yang tidak hanya menimpa Bank NTB Syariah. Sebab, Bank DKI juga mengalami hal yang sama.
“Insiden siber pada Maret 2025 tersebut tentu sangat berdampak pada risiko keuangan, operasional, dan reputasi Bank NtTB Syariah,” terang Sambirang.
“Kemudian, kerugian akibat adanya gangguan siber ini akan menjadi tantangan pertama pengurus baru Bank NTB Syariah untuk menyelesaikannya,” tambahnya.
Tantangan lainnya adalah berangkat dari hasil audit forensik menunjukkan lemahnya aspek manajemen resiko TI Bank NTB Syariah.
“Pengurus baru harus bisa menghadirkan terobosan kebijakan untuk upgrade kapasitas teknologi pengamanan semua jenis transaksinya,” ujarnya.
Pengurus baru juga diharapkan bisa memperbaiki portofolio pembiayaan Bank NTB Syariah, yang selama ini masih didominasi pembiayaan konsumtif, 89 persen lebih.
“Kita tantang pengurus baru untuk bisa menaikan proporsi pembiayaan produktif. Untuk itu, diperlukan reorientasi arah pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, pertanian, perikanan dan maritim, dan pariwisata sejalan dengan visi misi gubernur,” pungkasnya. (*)