Oleh: Muhamad Arju Gupron – Mahasiswa Prodi Tadris IPA Biologi UIN Mataram
Fenomena childfree menarik perhatian generasi muda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Childfree adalah keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak demi kebebasan pribadi dalam hidup. Pilihan untuk tidak memiliki anak semakin populer di kalangan pasangan muda, terutama di kota-kota besar yang memiliki dinamika sosial yang lebih modern dan terbuka.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menganggap pernikahan dan memiliki anak sebagai suatu kewajiban yang harus dijalani, generasi muda sekarang lebih terbuka dengan berbagai pilihan hidup yang mereka rasa lebih sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi pribadi mereka. Fenomena ini, meskipun tergolong baru, menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pandangan terhadap peran keluarga dalam kehidupan seseorang.
Ekonomi menjadi alasan utama bagi banyak pasangan muda yang memilih untuk tidak memiliki anak. Biaya hidup yang semakin tinggi, ditambah dengan tingginya biaya pendidikan dan perawatan anak, membuat banyak pasangan merasa keberatan untuk memiliki keturunan. Tidak hanya itu, mereka juga merasa bahwa untuk membesarkan anak dengan baik, diperlukan komitmen finansial yang sangat besar.
Oleh karena itu, banyak dari mereka yang memilih untuk lebih mengutamakan pengembangan karier dan kualitas hidup pribadi mereka. Mereka merasa bahwa memiliki anak akan membatasi kebebasan untuk mengejar cita-cita atau memenuhi keinginan pribadi, yang pada akhirnya berdampak pada pengembangan diri mereka yang lebih optimal.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga menjadi faktor penting yang memperkuat keputusan pasangan muda untuk memilih childfree. Dalam kehidupan yang penuh dengan tekanan dan tuntutan, banyak orang merasa bahwa memiliki anak bisa menambah beban dalam kehidupan mereka. Mereka khawatir bahwa tanggung jawab besar sebagai orang tua dapat mengurangi kebebasan pribadi yang mereka nikmati saat ini.
Dengan memilih untuk tidak memiliki anak, mereka merasa bisa lebih bebas dalam menjalani kehidupan – seperti bepergian, mengejar karier, atau mengembangkan minat pribadi – tanpa dibebani dengan tanggung jawab yang datang bersama peran orang tua. Oleh karena itu, bagi banyak pasangan muda, kesehatan mental dan kebebasan pribadi lebih penting daripada memiliki keturunan.
Namun, meskipun tren childfree semakin diterima oleh sebagian kalangan, masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan sosial terkait dengan pilihan ini. Dalam budaya yang sangat menghargai nilai-nilai keluarga besar, pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak sering kali dianggap bertentangan dengan norma sosial yang ada. Tekanan dari keluarga dan lingkungan sekitar untuk memiliki anak masih sangat kuat. Banyak yang melihat bahwa memiliki anak adalah bagian dari kewajiban moral dan sosial, serta simbol keberhasilan dalam menjalani kehidupan berkeluarga.
Namun, seiring dengan berkembangnya kesadaran tentang keberagaman pilihan hidup, tren ini perlahan mulai diterima oleh sebagian besar orang, meskipun masih ada sebagian yang menilai hal ini sebagai pilihan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisional.
Dampak sosial dan demografis dari tren childfree ini tidak bisa dianggap remeh. Penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang dapat memengaruhi struktur kependudukan Indonesia. Dengan semakin sedikitnya jumlah anak yang lahir, terdapat potensi penurunan jumlah tenaga kerja di masa depan, yang dapat berdampak pada ekonomi negara.
Selain itu, semakin sedikitnya keluarga yang memiliki anak juga berpotensi mengubah cara pandang masyarakat terhadap institusi keluarga itu sendiri. Namun, meskipun dampak ini patut diperhatikan, penting untuk dipahami bahwa setiap individu berhak memilih jalan hidupnya sesuai dengan nilai dan prioritas yang mereka anut. Pilihan untuk tidak memiliki anak bukanlah keputusan yang mudah, namun bagi banyak orang, itu adalah langkah yang mereka anggap terbaik untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan bahagia. (*)