Kritik Pakar Kesehatan NTB soal Pengobatan Tradisional yang Sedang Populer
Mataram (NTB Satu) – Munculnya Ida Dayak melakukan pengobatan tradisional kepada masyarakat menjadi sorotan. Pasalnya, banyak masyarakat yang telah berobat, lalu menyatakan dirinya sembuh. Hal tersebut mendorong masyarakat lain turut berobat ke Ida Dayak.
Namun, keakuratan pernyataan atau testimoni kesembuhan dari pasien yang telah berobat itu sangat rendah. Pakar Kesehatan NTB, Prof. Dr. dr. Hamsu Kadriyan memberikan penjelasan tersebut kepada NTB Satu, Senin, 1 Mei 2023.
“Banyak testimoni yang muncul adalah yang berhasil-berhasil saja. Lalu, yang tidak berhasil, tidak muncul. Akhirnya, ini menjadi bias. Masyarakat pun jadi menilai metode pengobatannya sangat baik, padahal tidak juga,” ungkap Hamsu.
Hamsu yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram ini menambahkan, terkait Ida Dayak, secara khusus hanya mengobati patah tulang. Menurutnya, secara prinsip untuk patah tulang ringan, dibiarkan saja tulangnya akan menyambung sendiri.
“Tetapi persoalannya, sambungannya nanti apakah kembali pada posisi yang sebenarnya. Kadang-kadang tersambungnya tidak lurus, bengkok, sehingga kekuatan dari tulang tidak baik,” terang Hamsu.
Berbeda lagi kalau kondisinya patah tulang terbuka dapat berisiko infeksi, kerusakan tulang, dan bahkan amputasi. Hal itu bisa terjadi karena penanganannya kurang baik.
“Sehingga memang kita semua harus hati-hati menyikapi pengobatan tradisional ini. Seperti, salah satunya yang dilakukan Ida Dayak,” ujar Hamsu.
Meskipun secara regulasi, Kementerian Kesehatan tidak melarang pengobatan tradisional, tetapi tetap ada risikonya.
“Dari 100%, pengobatan medis itu 95% berhasil dan sisanya gagal. Sedangkan pengobatan tradisonal, berisiko terjadi komplikasi setelah pengobatan. Maka, perlu penanganan secara medis dan bahkan ada yang tidak bisa tertangani,” tambah Hamsu.
Hamsu pun menyarankan, agar masyarakat proaktif mencari informasi tentang metode pengobatan yang benar dan ilmiah. Terlebih lagi, masyarakat juga sudah terbiasa mencari informasi melalui internet sehingga lebih mudah mendapatkan referensi yang berbahasa Indonesia maupun Inggris.
“Upaya pemerintah melakukan pembinaan kepada pelaku pengobatan tradisional ini juga sangat perlu. Agar para pelaku ini tetap dalam pantauan dan bisa berkoordinasi dengan petugas kesehatan jika ada kasus-kasus yang cukup kompleks. Sebab, dalam metode pengobatan apapun, pemerintah selalu mengedepankan keamanan,” pungkas Hamsu. (JEF)
Lihat juga:
- Semarak Gelegar Lentera Ramadan, Ikhtiar Bank NTB Syariah Akselerasi Digitalisasi QRIS dan Literasi Keuangan Syariah
- Dinas Dikbud Lombok Timur Mutasi 143 Kepala Sekolah
- Pendidikan Karakter Lingkungan, Pagi Pupuk Sore Dikubur
- Beraksi di Tujuh TKP, Dua Pelaku Curanmor di Mataram Akhirnya Ditangkap
- Inflasi NTB Februari 2026 Tembus 5,37 Persen, Kota Bima Tertinggi
- 63 Napi Lapas Lombok Barat Diusulkan Terima Remisi Nyepi 2026



