IKLAN
Advertorial

Komoditi Kelapa NTB Bertahan dari Eksploitasi Bahan Bangunan

Mataram (NTB Satu) – Komoditi kelapa adalah jenis tanaman pangan yang potensial, hanya saja semakin kehilangan tempat. Pasalnya, areal lahan dua komoditi ini semakin tergusur  dampak eksploitasi untuk kebutuhan bahan bangunan.  Tantangan ini harus dihadapi Dinas Pertian dan Perkebunan Provinsi NTB.

Strategi yang diterapkan Distanbun Provinsi NTB dengan peremajaan pohon kelapa dengan membangun gerakan bersama masyarakat melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan). Dinas Pertanian memberkikan edukasi kepada para Gapoktan melalui proses pembibitan, penanaman hingga perawatan agar produktivitas meningkat.  Hanya saja, laju penebangan masih tinggi dibanding peremajaan dampak tingginya kebutuhan bahan bangunan.

IKLAN

“Tingginya kebutuhan untuk bahan bangunan ini yang membuat pohon pohon kelapa semakin berkurang,” kata Kabid Perkebunan Distanbun Provinsi NTB, H. Ahmad Rifa’i.

Komoditi kelapa sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan jika melihat data statistik berdasarkan rekapitulasi produksi, areal panen dan produktivitas.

Sejak tahun 2016,   pergerakan produksi, luas panen dan produktivitas mengalami  tetap konstan. Sempat cukup tinggi di angka 48.828 ton dengan luas panen 45.95 Hektar dan total produksi 45,998 ton.    

Selanjutnya tahun 2016 sampai 2021    mengalami fluktuasi.  Pada tahun 2021, luas panen 45,723 Hektar dengan total produksi sedikit mengalami kenaikan 48.851 ton.

Selanjutnya, luas areal kepala potensial terletak di  Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur. Tampak dari angka statistik, bahwa luas panen di Lombok Utara tergolong tinggi, mencapai 10.060 hektar sementara di Lombok Timur mencapai 9.060 hektar.

Dari angka statistik itu kemudian Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melakukan pemetaan potensi pasar kelapa. Meski sampai saat ini belum diolah dengan kapasitas industry, namun kelapa muda sudah masuk ke pasar pasar tradisional. Pemerintah kemudian menghubungkan ini dengan industry pariwisata yang semakin berkembang.

Apa wujud kontribusi Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam hal intervensi kepada petani dan pemasaran?

Ke depan yang perlu diperkuat adalah membangun ekosistem olahan kelapa muda. Dalam hal ini, Dinas Pertanian dan Perkebunan berkolaborasi dengan OPD lain. Sebab apabila pasar telah terbangun, para IKM tentu membutuhkan keberlanjutan bahan baku. (HAK/*)  

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button