Hukrim

Marak Kasus Bunuh Diri di NTB, Sosiologi Sebut Dipicu Kurangnya Rasa Hormat

Mataram (NTB Satu) – Aksi nekad bunuh diri marak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tindakan itu dilakukan karena berbagai faktor.

Sebut saja, faktor stress terlilit hutang dan merasa jadi beban keluarga.

IKLAN

Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Mataram (Unram), Azhari Evendi, S.Sos., M.A., menyampaikan, bunuh diri merupakan sikap yang tidak normal karena tidak sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat.

Namun, ia juga memandang bahwa kegiatan bunuh diri secara sosiologis bisa terjadi diakibatkan seseorang telah kehilangan makna dalam hidupnya.

Dalam pandangannya, saat seseorang tidak merasa hidupnya bermakna, maka hal-hal yang dilakukan seseorang itu mencari sesuatu yang bermakna, yakni melakukan tindakan bunuh diri.

“Bunuh diri adalah aktivitas yang tidak normal karena tidak sejalan dengan nilai-nilai di masyarakat,” katanya dikonfirmasi ntbsatu.com, Kamis, 23 Desember 2021.

“Tetapi, seseorang yang telah kehilangan makna pada hidupnya, mengambil jalan untuk bunuh diri karena hal itu dianggap bermakna,” jealsnya menambahkan.

Lebih lanjut, Azhar mengkaitkan tindakan bunuh diri dengan teori solidaritas Emile Durkheim, di mana bunuh diri bukan tindakan yang berdiri sendiri, melainkan memilki korelasi dengan faktor-faktor lain.

Kemudian ia mengutarakan, fenomena bunuh diri jika ditinjau dari kacamata sosiologi, terjadi akibat seseorang tidak mendapatkan penghargaan dan penghormatan di lingkungannya.

“Orang-orang yang melakukan bunuh diri adalah mereka yang tidak dapat penghargaan di masyarakatnya, bisa tidak diperhatikan oleh keluarga, karena dalam konteks sosiologi ada ikatan-ikatan yang saling berpengaruh,” ungkapnya.

Selain itu, Azhar menyarankan ke pemerintah untuk memperkuat peran institusi keluarga dan lembaga terkait guna mencegah tindakan bunuh diri lingkup NTB.

“Cara untuk mencegahnya, pemerintah harus memperkuat peran keluarga dan lembaga terkait sebagai wadah sosialisasi dan edukasi dalam mencegah tindakan bunuh diri ini,” ujarnya.

Sebagai catatan, Desember 2021 ini, ada dua peristiwa bunuh diri di NTB, diantaranya:

Kasus Pertama seorang wanita, berinisial SI, usia 45 tahun yang ditemukan tewas tergantung di tepi Pantai Demung, Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Rabu, 1 Desembee 2021.

Korban berasal dari Nyiuh Bubut, Dusun Sempak, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Menurut keterangan keluarga korban, korban melakukan aksi nekatnya itu karena stress terlilit hutang.

Kasus kedua, warga Cakranegara Selatan geger dengan penemuan sosok mayat pria berinisial INS, yang diduga gantung diri di rumahnya.

Mayat ditemukan dalam keadaan tergantung pada pohon klengkeng di dalam are pura rumah, Sabtu 18 Desember 2021.

Aksi nekat korban diduga karena merasa menjadi beban dalam keluarga.

Dua kasus ini belum termasuk rentetan kasus sebelumnya yang marak di beberapa wilayah di NTB. (DAA)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button