Lombok Tengah

Program Magang Hotel, Solusi Masalah Ketenagakerjaan di Mandalika

Lombok Tengah (NTB Satu) – Rasio ketersediaan kamar hotel dengan karyawan idealnya harus seimbang untuk menyambut WSBK dan event sport tourism lainnya. Jika dikalkulasi, butuh 12.000 kamar untuk crew dan penonton.

Artinya, harus tersedia 12.000 karyawan agar pelayananan kepada tamu bisa maksimal. Jika kebutuhan ini bisa difasilitasi pemerintah, maka jadi solusi alternatif masalah ketenagakerjaan di NTB, khususnya lingkar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Hitung hitungan itu dilontarkan Ketua Asosiasi Hotel Mandalika (AHM), Syamsul Hadi Jumat (24/9) saat menjawab ntbsatu.com usai pertemuan virtual dengan Menaker RI Ida Fauziah di JM Hotel.

Asosiasi angota 53 hotel, bintang 5 bintang 2, kebutuhan kamar . 1000 kamar, dengan total crew 1250 orang.
Jika sport tourism terlaksana dan sukses, ia memprediksi 25 sampai 50 persen total penonton yang datang, sehingga dibutuhkan 12.000 kamar.

“Perbandinganya satu banding satu. Satu kamar, satu karyawan. Berarti 12.000 karyawan kita butuhkan,” jelas Syamsul.

“Kalau lihat ketersediaan tenaga (Magang) yang ada, tentu kita akan kekurangan. Tapi mudah mudahan ke depan agar pemerintah bisa membantu menjawab tantangan ini. Sebab kita akan kedatangan tamu luar biasa,” jelas Syamsul.

Atas dasar kebutuhan tenaga kerja itu, ia mengapresiasi program pemagangan yang dicanangkan Kemenaker RI, termasuk yang berlangsung di Mandalika sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP).

Ada 90 peserta magang yang tersebar di hotel hotel di bawah AHM, termasuk hotel miliknya, JM Hotel. Secara pribadi maupun organisasi, ia mengaku merasa terbantu dalam hal penyiapan skill calon tenaga kerja.

Apalagi di masa pandemi saat ini, program ini sangat membantu pihaknya.

“Harapan kita dengan pemagangan ini sesuai dengan demand kebutuhan tenaga di perhotelan. InshaAllah sesuai dengan yang kita butuhkan,” kata Syamsul.

Merespons itu, Kepala Disnakertrans Provinsi NTB, Gde Putu Aryadi menilai kebutuhan tenaga kerja dari manajemen hotel sinkron dengan program Kemenaker melalui kick off pemagangan pada 5 daerah destinasi prioritas.

Berbeda dengan pekerja, program magang akan menghasilkan skill calon karyawan yang memiliki kemampuan lebih. Karena proses penggemblengan dilakukan secara langsung pada industri perhotelan.

Apalagi mereka mendapat upah yang disubsidi dari pemerintah, Rp 1 juta per bulan.

Pola pemagangan seperti itu akan sangat bermanfaat. Ketika mereka selesai magang bisa langsung ditampung bekerja ditempat magangnya. Atau jika tidak mereka bisa menjadi wirausaha mandiri sesuai dengan keterampilan yang didapatkan di lokasi pelatihan tersebut.

“Begitu dia tamat dari pelatihan langsung diserap sebagai pegawai disana,” katanya menjelaskan manfaat tersebut. (red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button