Satgas MBG Beberkan Kendala Uji Coba MBG Prasmanan di NTB
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB mulai uji coba kebijakan baru program Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan di salah satu sekolah di Kota Mataram pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Dalam uji coba ini, Satuan Tugas (Satgas) MBG NTB membeberkan sejumlah kendala pelaksanaan program tersebut.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani menyampaikan, salah satu kendalanya yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di NTB harus melayani banyak sekolah sekaligus. Beberapa SPPG bahkan menyalurkan MBG hingga ke belasan sekolah.
“Kendalanya yaitu titik sebar lokasi penerima manfaat ini sangat menyebar. Misalnya, satu SPPG melayani bahkan sampai 14 sekolah,” ujarnya pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Selain itu, ia menambahkan SPPG belum memiliki sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai untuk menjalankan sistem prasmanan. Oleh karena itu, Fathul mempertanyakan kemungkinan Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan insentif tambahan kepada para mitra untuk melengkapi sarpras tersebut.
“Tadinya satu porsi senilai 10 ribu untuk porsi besar dan 8 ribu untuk porsi kecil. Apakah BGN akan menambah nominal tersebut? Porsi mungkin tetap, tetapi operasionalnya bertambah untuk membeli sarana prasarana prasmanan. Saya mencoba membangun komunikasi dengan BGN agar mereka mempertimbangkan hal ini,” bebernya.
Evaluasi Insentif dan Ketersediaan Daerah
Fathul juga menilai insentif sebesar Rp2 ribu per porsi menjadi kendala tersendiri. Kebijakan ini membutuhkan evaluasi karena membuat beberapa mitra merasa kewalahan.
Jika pemerintah menerapkan kebijakan ini secara penuh, Fathul mengaku tidak semua daerah dan SPPG mampu menjalankannya. Hanya wilayah dengan jangkauan antar-sekolah yang dekat, seperti Kota Mataram dan Kota Bima, yang siap menerapkan MBG prasmanan.
“Topografi daerah memengaruhi hal ini karena jangkauannya tidak terlalu jauh. Kami mencoba menawarkan Kota Bima untuk menentukan lokasi uji coba berikutnya,” ungkapnya.
Siswa Sambut Positif Skema Prasmanan
Di sisi lain, sekolah mencatatkan bahwa uji coba pendistribusian MBG skema prasmanan berjalan lancar. Para siswa di SD Al-Iqro Mataram bahkan menyambut baik metode baru ini.
Salah seorang siswa kelas VI SD Al-Iqro Mataram, Pangeran, mengaku bahwa skema prasmanan menjaga kualitas makanan. Pasalnya, wadah ompreng pada metode sebelumnya kerap menyajikan makanan yang sudah dingin.
“Kemarin MBG terasa dingin, sedangkan sekarang masih hangat. Saya lebih menyukai cara ini,” katanya.
Menurut Pangeran, para siswa kurang menikmati MBG sebelumnya karena faktor suhu makanan. Skema prasmanan memudahkan siswa mengambil makanan sesuai porsi masing-masing sehingga mencegah makanan terbuang mubazir.
“Namun, petugas belum menyediakan air minum sehingga kami harus membaginya sendiri,” tambahnya.
Siswa lainnya, Ganin, turut mendukung skema prasmanan ini. Metode tersebut menjaga kualitas makanan tetap hangat saat siswa menyantapnya. Selain itu, cara ini mencegah makanan saling tercampur yang sering kali membuat siswa enggan menghabiskannya.
“Kami menikmati makanan karena masih hangat. Metode ini membuat makanan tidak mubazir,” pungkasnya. (*)




