Kemarau Panjang, Pemprov NTB Agendakan Salat Minta Hujan
Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) baru akan memasuki musim hujan pada dasarian ketiga atau akhir November 2026.
BMKG mencatat fenomena El Nino kategori sangat kuat dengan indeks mencapai +3,07 derajat Celsius menjadi pemicu utama yang memperpanjang musim kemarau dan menggeser jadwal awal musim hujan di wilayah tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuga Putrantijo, menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang sangat kuat merubah pola musim hujan secara signifikan dan memperpanjang musim kemarau tahun 2026.
BMKG membagi NTB ke dalam 27 zona musim berdasarkan karakteristik curah hujan 10 zona di Pulau Lombok dan 17 zona di Pulau Sumbawa. Sehingga awal musim hujan tidak akan terjadi secara serentak.
Zona NTB 1 yang mencakup Kota Mataram dan sebagian Kabupaten Lombok Barat. Prakiraannya, baru mulai diguyur hujan pada sepuluh hari terakhir November.
Agendakan Salat Minta Hujan
Menanggapi situasi darurat kekeringan ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi komprehensif, baik secara teknis maupun spiritual.
Pemprov NTB merencanakan penanganan krisis air secara masif. Sekaligus mengagendakan pelaksanaan salat istisqa untuk memohon penurunan hujan di seluruh wilayah terdampak.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi NTB, H. Amir, mengatakan bahwa kemarau ekstrem tahun ini tergolong situasi darurat di luar perencanaan rutin pemerintah yang menuntut tindakan cepat dan terukur.
“Kami sedang mengagendakan untuk menghadap pimpinan. Hal ini guna menyampaikan beberapa hal terkait penanganan kemarau panjang, termasuk persiapan salat istisqa,” ujar Amir, Senin 12 Oktober 2026.
Ia menambahkan, Pemprov NTB kini tengah mengoordinasikan langkah-langkah teknis nonkonvensional bersama pimpinan daerah.
Pemprov NTB menggencarkan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat memahami kebijakan serta berpartisipasi aktif dalam mitigasi krisis air ini. (*)




