Mahasiswa NTB Suarakan Ketimpangan Pendidikan dan Transportasi Daerah di Jakarta
Mataram (NTBSatu) – Mahasiswa dan masyarakat asal NTB yang berada di Jakarta menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan berbagai persoalan mendasar di daerah asal mereka pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Dalam aksi tersebut, mereka menyoroti ketimpangan yang masih warga rasakan. Khususnya terkait akses pendidikan yang layak serta buruknya infrastruktur perhubungan.
Perwakilan massa, Nabila, menyebutkan keberadaan mereka pada kegiatan tersebut sebagai wakil dari berbagai ketimpangan yang terjadi.
“Kami mewakili teman-teman saya di Nusa Tenggara Barat, teman-teman saya yang ada di timur, teman-teman saya yang tertindas. Kami mewakili teman-teman saya yang tidak dapat akses pendidikan!” tegasnya, mengutip akun Threads evianafs pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Hambatan Sektor Transportasi Laut
Aksi penyampaian aspirasi ini menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah pusat dan daerah kepulauan. Meskipun mobilitas di kota besar cukup memadai, sebagian masyarakat di wilayah NTB masih menghadapi kendala besar. Terutama mengenyam pendidikan formal serta mengakses fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.
Selain pendidikan, permasalahan krusial yang turut Nabila suarakan berkaitan dengan kondisi sektor transportasi laut. Keterbatasan sarana perhubungan air di berbagai wilayah NTB dinilai sangat tidak layak dan menghambat roda perekonomian masyarakat lokal.
“Tapi akses kendaraan atau transportasi lautnya sangat-sangat tidak layak. Mereka tidak pernah bisa mengirimkan komoditas apapun untuk dapat melawan semua orang-orang yang ada di sentral,” tegasnya.
Buruknya akses transportasi laut tersebut berdampak langsung pada distribusi komoditas daerah. Warga kesulitan mengirimkan hasil bumi dan produk lokal ke pusat, sehingga ketimpangan ekonomi dan keterisolasian wilayah terus berlanjut tanpa adanya solusi konkret dari pihak berwenang.
Tuntutan Evaluasi Kebijakan Pusat
Massa aksi mendesak pemerintah pusat untuk segera mengevaluasi kebijakan pembangunan yang selama ini dinilai tidak merata. Mereka meminta negara hadir memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
“Hari ini kita harus menyadari bahwa kita mewakili orang-orang tertindas. Maka dari itu, sadarilah kita hari ini bukan melawan teman-teman, tapi melawan orang-orang yang menindas kita!” pungkasnya. (*)




