Ekonomi Bisnis

Stok Menipis dan Cuaca Buruk Picu Kenaikan Harga Cabai hingga Bawang Merah di NTB

Mataram (NTBSatu) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB mencatat kenaikan harga pada sejumlah bahan pokok pangan, terutama kelompok cabai dan bawang merah, per Jumat, 23 Oktober 2026.

Penurunan pasokan dari produsen serta faktor cuaca menjadi pemicu utama melonjaknya harga di pasaran.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PPDN) Disperindag NTB, Lalu Afghan Muharor menjelaskan, menipisnya stok di pasar mulai mengerek harga bawang merah sejak awal pekan. Sementara itu, komoditas cabai terus mengalami fluktuasi akibat tingginya permintaan konsumen.

“Memasuki minggu ini, harga bawang merah mulai naik karena stok di pasaran mulai berkurang. Tingginya permintaan pasar juga mendorong kenaikan harga cabai rawit merah,” kata Lalu Afghan kepada NTBSatu, Minggu, 25 Oktober 2026.

Berdasarkan hasil pemantauan tim PPDN bersama kontributor se-NTB, harga cabai rawit merah naik Rp1.400 menjadi Rp55.483 per kilogram.

Cabai rawit hijau merambat naik Rp300 menjadi Rp29.167 per kilogram, dan cabai merah keriting melonjak Rp3.000 hingga menyentuh Rp45.400 per kilogram. Bawang merah turut merangkak naik Rp500 rupiah menjadi Rp27.083 per kilogram.

Sebaliknya, peningkatan ketersediaan stok menahan harga cabai merah besar pada angka Rp54.417 per kilogram.

Para pedagang di pasar tradisional merasakan langsung kelangkaan pasokan ini. Salah seorang pedagang lokal, Bayati, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan cabai merah.

“Saat ini saya jarang mendapat pasokan cabai merah dari distributor. Faktor cuaca buruk sepertinya mempengaruhi pasokan barang,” ujar Bayati.

Tren Harga Beras dan Sektor Peternakan

Berbeda dengan kelompok bumbu dapur, harga beras medium justru melandai. Beras Cap IR turun menjadi Rp12.750 per kilogram, Cap C4 seharga Rp12.500 per kilogram, dan pedagang memasarkan Cap Lokal seharga Rp12.200 per kilogram.

Sementara beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bertahan stabil di angka Rp12.268 per kilogram.

Untuk beras premium, harga bergerak bervariasi dari varian terendah Cap Tujuh-Tujuh dan Cap Dua Jempol (Rp14.500/kg) hingga varian tertinggi Cap 123 (Rp15.667/kg).

Di sektor komoditas lain, lonjakan permintaan mengerek harga gula pasir curah naik Rp56 rupiah menjadi Rp16.917 per kilogram, sedangkan pedagang menjual gula premium seharga Rp17.500 per kilogram. Tepung terigu mengikutinya dengan kenaikan tipis Rp50 rupiah menjadi Rp12.217 per kilogram.

Sementara harga minyak goreng berkisar antara Rp15.700 per liter (Minyakita), Rp20.135 per liter (curah), hingga Rp24.600 per liter (premium).

Pada sektor peternakan, harga daging ayam ras melandai Rp100 rupiah menjadi Rp43.050 per kilogram dengan harga telur ayam ras berada di angka Rp28.913 per kilogram.

Komoditas daging sapi stabil pada kisaran Rp125.000 (gandik/lamosir) hingga Rp138.333 per kilogram (paha belakang).

Imbauan Belanja Bijak

Menanggapi fluktuasi harga tersebut, Lalu Afghan meminta masyarakat tidak melakukan panic buying dan tetap berbelanja secara proporsional.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap bijak dalam memilih dan membeli kebutuhan pokok. Belilah sesuai dengan kebutuhan riil,” imbau Lalu Afghan.

Disperindag NTB memastikan akan terus memantau pergerakan harga secara berkala dan mempublikasikan data terkini secara transparan melalui portal Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan. (*)

Artikel Terkait