PHRI NTB Optimistis Okupansi Hotel Capai 100 Persen Jelang MotoGP Mandalika
Mataram (NTBSatu) – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB optimistis tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel di Lombok akan menyentuh angka 100 persen menjelang gelaran MotoGP Mandalika 2026.
Meskipun pemesanan saat ini masih dinamis, PHRI memperkirakan lonjakan wisatawan akan mencapai puncaknya menjelang hari perhelatan.
Ketua PHRI NTB, Ni Ketut Wolini menjelaskan, wisatawan terus memesan kamar hotel yang tersebar di berbagai kawasan utama. Mulai dari Mandalika, Kota Mataram, hingga Senggigi.
“Kami optimistis pemesanan hotel bisa mencapai 100 persen saat hari H nanti. Karena masih ada waktu sekitar dua minggu, proses pemesanan terus berjalan secara fleksibel. Beberapa hotel sudah penuh, sementara yang lain masih menyediakan kamar,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis 24 September 2026.
Menanggapi isu kenaikan tarif hotel yang berlebihan, Wolini memastikan pengelola hotel memberlakukan harga yang relatif stabil dan tidak melonjak drastis. Kondisi ini tetap terjaga meskipun pemerintah daerah telah mencabut Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 9 Tahun 2022 tentang Batas Atas Tarif Hotel.
Ia menambahkan, pencabutan aturan tersebut justru membuat mekanisme pasar berjalan secara wajar. Sebagian besar hotel tetap mempertahankan tarif normal. Sedangkan beberapa pengelola hanya menyesuaikan harga dalam batas wajar sesuai dengan fasilitas yang mereka tawarkan.
“Sejak pemerintah mencabut pergub tersebut, pengelola hotel tidak menaikkan harga secara signifikan. Rata-rata tarif hotel tetap normal. Kami mengimbau konsumen agar lebih jeli memilih hotel. Misalnya dengan membandingkan harga dan fasilitas antar penyedia jasa di platform pemesanan daring,” jelasnya.
Beri Dampak Berganda bagi UMKM dan Ekonomi Lokal
Selain menggairahkan sektor akomodasi, Wolini menekankan bahwa perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika membawa dampak berantai atau multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian lokal NTB, khususnya para pelaku UMKM.
Peningkatan pemesanan hotel dan restoran secara langsung menyerap berbagai produk dari penyuplai bahan pangan lokal.
“Dampaknya sangat luas. Ketika hotel dan restoran terisi penuh, penyuplai buah, sayur, hingga beras ikut merasakan pergerakannya. Restoran besar maupun kecil, serta UMKM lokal, semuanya menikmati dampak positif dari kedatangan para wisatawan,” tambah Wolini.
Wolini berharap pemerintah dan pihak terkait terus menggelar ajang balap internasional seperti MotoGP di Lombok setiap tahun. Keberadaan sirkuit yang menyatu dengan kawasan pariwisata menjadi daya tarik unik yang tidak dimiliki oleh daerah lain, baik di Indonesia maupun dunia. (Japriani)




