Menyusuri Jejak Bandara Lunyuk Sumbawa, Pangkalan Bantuan Logistik Pasca Gempa 1977
Mataram (NTBSatu) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal meninjau langsung keberadaan Bandar Udara Lunyuk Kabupaten Sumbawa, Sabtu, 9 Mei 2026.
Gubernur Iqbal hadir bersama rombongan dari Pemprov NTB, serta tim eksternal pemerintahan. Salah satunya, Direktur Eksekutif Matadata Institute, Nurdin Ranggabarani.
Meninjau Bandar Udara Lunyuk merupakan salah satu rangkaian kunjungan kerja Iqbal ke Kabupaten Sumbawa. Sebelumnya, ia dan rombongan sudah meninjau progres perbaikan jalan Lenangguar-Lunyuk.
Kemudian, meninjau Desa Berdaya Padasuka, mengunjungi rumah warga jompo dan difabel, pengenalan cinta lingkungan untuk anak-anak usia dini, Silaturahmi dan diskusi dengan Forum Masyarakat Lunyuk Bersatu, dan mengunjungi SMK Negeri Lunyuk.
Dalam kunjungan itu, Nurdin menceritakan, pembangunan Bandar Udara Lunyuk di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Luasnya sekitar 11 hektar. Memiliki landasan pacu (runway) yang terbuat dari beton, sepanjang 850 meter kali lebar 45 meter.
“Peresmian bandara ini oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan RI, Marsekal Madya (Purn), Kardono, pada 3 Januari 1978,” kata Nurdin.
Saat itu, Bandara Lunyuk diaktifkan sebagai pangkalan bantuan logistik, pangan, obat-obatan, dan regu penolong, pasca gempa dahsyat berkekuatan 8,3 SR pada 19 Agustus 1977 lalu.
Gempat tersebut menimbulkan gelombamg tsunami hebat, yg menghantam pesisir Selatan Kabupaten Sumbawa. “Bencana ini menimbulkan korban dan kerugian material yang cukup besar,” ujarnya.
Hingga pertengahan tahun 1980-an, Bandara Lunyuk berperan aktif sebagai bandara perintis. Bandara ini melayani penerbangan jarak pendek, Lunyuk-Sumbawa Besar, Lunyuk-Bima, Lunyuk-Lombok, dan Lunyuk-Bali. Menggunakan pesawat berbaling-baling tunggal, jenis Cassa 212, atau pesawat jenis lainnya dengan bobot yang sama.
Walau sudah cukup lama tidak aktif, Bandara Lunyuk masih terdaftar di asosiasi transportasi udara internasional atau International Air Transport Association (IATA) dg Kode LYK. Serta, terdaftar di organisasi penerbangan sipil internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO). Sebuah lembaga penerbangan sipil di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dg Kode: WADU.
Mempersingkat Waktu Tempuh
Gubernur Iqbal dalam kunjungan itu menyampaikan, apabila bandara ini padat dihidupkan, maka akan mempersingkat waktu tempuh antara Lunyuk-Sumbawa Besar. Jarak tersebut jika lewat darat memerlukan waktu tiga jam menjadi 30 menit. Kemudian, jarak antara Lunyuk-BIL yang butuh waktu lewat darat antara 8 hingga 9 jam menjadi hanya 1 jam penerbangan.
Menurut dia, Kecamatan Lunyuk dengan potensi sumber daya alam yang dimilikinya, memerlukan jenis transportasi udara yang dapat memperpendek jarak dan mempersingkat waktu.
Kecamatan Lunyuk kaya akan hasil bumi: pertanian, perkebunan, perikanan kelautan dan peternakan. Kemudian, beberapa destinasi wisata menarik, baik panorama alam daratan dan pantai.
Dengan kekayaan itu, lanjut Iqbal, efektifitas dan efisiensi menjadi daya tarik bagi para investor dan wisatawan untuk berkunjung maupun berinvestasi.
“Bila bandara perintis ini dapat dihidupkan, maka bisa mempercepat pergerakan orang, angkutan barang dan jasa. Tujuannya, percepatan akses pembangunan perekonomian wilayah selatan Kabupaten Sumbawa,” jelasnya.
Terlebih, kata dia, jika PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), telah mulai beroperasi di Blok Elang, Dodo Rinti. Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak manajemen PT. AMNT untuk membicarakan masalah tersebut.
“Semoga suatu saat, akses transportasi udara wilayah selatan ini dapat kita hidupkan dan kita kembangkan di masa yang akan datang,” tutupnya. (*)




