Kenapa Suhu Sebelum Hujan di Lombok Panas Banget? Ini Penjelasan BMKG
Mataram (NTBSatu) – Masyarakat di kawasan Lombok dan sekitarnya belakangan ini kerap merasakan kondisi cuaca yang sangat terik, gerah, dan pengap beberapa saat sebelum hujan akhirnya turun.
Fenomena cuaca ini sering memicu pertanyaan publik. Secara logika, awan mendung yang menyelimuti langit Lombok seharusnya membawa hawa sejuk dan menurunkan suhu udara secara langsung.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stamet Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Gede Dedy, memberikan penjelasan terkait hal tersebut.
“Kondisi cuaca panas, gerah atau pengap saat sebelum terjadinya hujan biasanya karena tingginya kadar kelembapan udara di sekitar kita,” ujarnya kepada NTBSatu pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Penyebab Suhu Gerah
Tingginya konsentrasi uap air di udara sebelum hujan turun memberi dampak langsung pada sistem termoregulasi tubuh manusia. Saat kadar kelembapan udara di wilayah Lombok melonjak tinggi, udara di sekeliling menjadi jenuh oleh uap air.
Kondisi jenuh ini secara otomatis menghalangi pelepasan hawa panas dari tubuh warga yang mendiami wilayah tersebut.
“Hal ini dapat membuat keringat di kulit menjadi lebih sulit untuk dilepaskan atau menguap. Sehingga mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan diri menjadi terhambat dan membuat tubuh lebih terasa gerah daripada biasanya bu,” jelasnya.
Secara meteorologis, proses pembentukan hujan sebenarnya bermula dari massa udara hangat di permukaan bumi yang bergerak naik menuju atmosfer. Udara hangat tersebut memuai akibat tekanan udara sekitar yang lebih rendah.
Pemuaian udara memicu penurunan suhu yang membuat udara tidak lagi mampu menahan uap air. Sehingga terjadi pengembunan atau kondensasi yang membentuk awan hujan.
Fenomena Perangkap Panas
Kendati proses pendinginan terjadi di lapisan atas atmosfer, wilayah permukaan daratan Lombok justru mengalami fenomena sebaliknya sebelum air hujan benar-benar jatuh membasahi bumi.
Dedy menjelaskan, keberadaan gumpalan awan tebal di ketinggian rendah berperan sebagai penghalang utama bagi sirkulasi panas bumi.
“Selain itu awan tebal atau awan mendung yang berada di ketinggian rendah dapat memerangkap panas bumi dan radiasi matahari di lapisan bawah atmosfer,” tuturnya.
Dinamika ini makin kuat akibat adanya fenomena atmosfer tertutup atau atmospheric capping. Fenomena tersebut terjadi sewaktu suhu udara pada ketinggian tertentu terlampau hangat. Sehingga menahan massa udara dari daratan Lombok untuk naik dan mendingin secara cepat.
Panas radiasi matahari beserta suhu bumi yang terpantul akhirnya terkunci rapat di bawah lapisan awan rendah. Hawa panas dan pengap baru dapat mengurai sepenuhnya setelah massa udara dingin mendorong penutup tersebut dan menurunkan curah hujan ke daratan Lombok. (*)




