Kemarau Panjang, Musim Tanam Padi di Lombok Timur Terpaksa Dimundurkan
Lombok Timur (NTBSatu) – Fenomena El Nino Godzilla yang memicu kemarau panjang berpotensi memundurkan musim tanam padi di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dinas Pertanian Lombok Timur meminta petani memanfaatkan masa peralihan musim untuk menyiapkan lahan sebelum hujan mulai turun.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, mengatakan prediksi awal musim hujan yang mundur hingga Januari 2027 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jadwal tanam petani.
Meski sejumlah kecamatan mulai diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir, kondisi tersebut belum menandai masuknya musim hujan.
“Pada tahun ini kita akan mundur tanam. Namun, NTB pada umumnya sudah masuk masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” kata Kasturi, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, hujan yang turun saat ini masih bersifat sporadis. Karena itu, petani perlu memperhatikan perkembangan cuaca sebelum memulai penanaman secara serentak.
Antisipasi Hujan di Atas Normal
Kasturi mengimbau petani menggunakan masa transisi untuk membersihkan lahan dan saluran irigasi. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi prediksi curah hujan di atas normal meski berlangsung dalam periode relatif pendek.
“Kalau bisa di waktu transisi ini untuk membersihkan lahannya, persiapan tanam, dan membersihkan saluran-saluran irigasi yang kotor. Prediksi hujan kita tahun ini sangat pendek dan cukup besar di atas normal,” kata Kasturi.
Menurutnya, saluran irigasi yang bersih dapat membantu memperlancar aliran air saat hujan deras. Dengan begitu, petani bisa mengurangi risiko genangan yang berpotensi mengganggu tanaman.
Selain itu, petani perlu mempertimbangkan jenis tanaman yang sesuai dengan ketersediaan air, terutama di lahan yang rentan mengalami kekeringan.
“Kita berharap juga kalau ada penanaman di tingkat lahan, tolong menanam tanaman yang adaptif terhadap kekeringan. Contohnya mungkin jagung,” Kasturi.
Di tengah potensi pergeseran musim tanam, Dinas Pertanian Lombok Timur tetap mendorong peningkatan produktivitas padi melalui program PMAAS. Program tersebut menerapkan pemadatan populasi tanaman dengan target hasil 10 hingga 12 ton per hektare.
Dinas Pertanian menargetkan penerapan program itu pada lahan seluas 5.000 hektare hingga Desember 2026. Penyuluh pertanian akan mendampingi petani untuk mencapai target tersebut.
Sementara itu, Kasturi memastikan produksi padi di sejumlah wilayah masih berjalan karena dukungan air dan jaringan irigasi yang memadai. Ia juga menyebut ketersediaan beras di Lombok Timur masih aman. (*)




