Lombok BaratPemerintahan

Angka Stunting Lombok Barat Turun Jadi 8,93 Persen

Lombok Barat (NTBSatu) – Angka stunting di Lombok Barat (Lobar) turun menjadi 8,93 persen pada September 2026. Namun, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan untuk memastikan setiap balita mendapat penanganan sesuai kebutuhan.

Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGM), prevalensi tersebut menurun dari 9,37 persen pada 2025.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar kini mengandalkan dua strategi untuk mempercepat penurunan stunting. Keduanya yakni INSTING SUPER dan SEHATI.

INSTING SUPER atau Intervensi Stunting dengan Susu Pertumbuhan berfokus pada pemenuhan gizi balita. Sementara itu, SEHATI atau Sistem Kesehatan Balita Stunting Terintegrasi memperkuat pemantauan melalui sistem data.

Wakil Bupati Lobar, Nurul Adha, menegaskan komitmen tersebut dalam rapat koordinasi percepatan penurunan stunting.

Dalam rapat di Ruang Jayengrane tersebut, Nurul Adha menekankan pentingnya pemenuhan gizi selama masa pertumbuhan anak.

“Kita memberikan susu khusus ini, untuk selamatkan perkembangan otak,” tegasnya, Senin, 2 November 2026.

Menurutnya, intervensi gizi menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan anak sejak usia dini. Karena itu, pemerintah melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat penanganan stunting.

Hasil Intervensi Susu Perlu Evaluasi

Kepala Dinas Kesehatan Lobar, Erny Suryana, memaparkan hasil evaluasi program INSTING SUPER selama tiga bulan.

Berdasarkan evaluasi tersebut, rata-rata berat badan balita penerima intervensi naik 0,9128 kilogram atau sekitar 912 gram. Angka itu melampaui standar kenaikan berat badan periode yang sama sebesar 720 gram.

Sementara itu, rata-rata tinggi badan balita meningkat 2,7018 sentimeter. Capaian tersebut juga melampaui standar kenaikan tiga bulan sebesar 2,4 sentimeter.

Hasil evaluasi itu menunjukkan perkembangan positif pada balita penerima intervensi. Meski demikian, pemerintah tetap perlu memantau pertumbuhan setiap anak secara berkala.

Sebab, kenaikan berat dan tinggi badan belum cukup menggambarkan seluruh aspek keberhasilan penanganan stunting. Pemerintah juga perlu memastikan intervensi menjangkau sasaran yang tepat dan berlangsung sesuai kebutuhan masing-masing anak.

SEHATI Jadi Instrumen Pengawasan

Selain intervensi gizi, Pemkab Lobar menyiapkan pembenahan tata kelola melalui aplikasi SEHATI. Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lobar mengembangkan aplikasi tersebut sebagai dashboard data penanganan stunting.

Sistem ini dirancang untuk menghimpun data dari berbagai perangkat daerah. Pemangku kepentingan dapat menggunakannya untuk memantau sasaran, mengevaluasi program, dan menentukan intervensi.

Nurul Adha menegaskan, pemerintah akan mengarahkan pemantauan dan evaluasi penanganan stunting melalui SEHATI.

Dengan sistem tersebut, seluruh perangkat daerah diharapkan menggunakan rujukan data yang sama. Pemerintah juga ingin mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan perkembangan balita di lapangan.

Kepala puskesmas memiliki peran penting dalam penerapan sistem tersebut. Mereka menjadi salah satu sumber utama data perkembangan balita penerima intervensi.

Karena itu, akurasi data menjadi tantangan penting dalam penerapan SEHATI. Data yang tidak sesuai kondisi lapangan berisiko mengganggu ketepatan penentuan sasaran dan kebijakan.

Melalui INSTING SUPER dan SEHATI, Pemkab Lobar berupaya menggabungkan intervensi gizi dengan penguatan sistem pemantauan.

Penurunan prevalensi stunting menjadi capaian awal. Namun, pemerintah masih harus memastikan intervensi berjalan konsisten, data tetap akurat, dan setiap balita memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait