PemerintahanSumbawa Barat

Dinkes KSB Minta Ahli Gizi Turun Lapangan Awasi Balita

Sumbawa Barat (NTBSatu) — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumbawa Barat mengoptimalkan peran tenaga nutrisionis atau ahli gizi pada setiap unit pelaksana teknis dinas puskesmas. Sebab, kehadiran konselor gizi memperkuat pendampingan langsung bagi ibu hamil serta balita sasaran.

Selanjutnya, pemerintah daerah memfokuskan intervensi spesifik pada sisa 675 balita stunting dari total 9.970 anak terukur di KSB. Oleh karena itu, persentase kasus berhasil turun hingga angka 6,77 persen pada Triwulan III 2026.

Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof Sitompul, M.MRS., MQM. menegaskan, tenaga nutrisionis wajib mengawal kelas ibu hamil serta kelas balita. Maka dari itu, edukasi gizi dan pemantauan MP-ASI berjalan tepat sasaran di tingkat desa.

“Tenaga nutrisionis puskesmas wajib turun langsung menjadi konselor gizi serta mendampingi tatalaksana balita stunting,” ujar Carlof, Minggu, 8 November 2026.

Selain itu, langkah pendampingan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) KSB dalam mengintegrasikan program penurunan stunting secara komprehensif. Oleh sebab itu, ketepatan sasaran intervensi di lapangan menjadi kunci utama keberhasilan pemulihan gizi anak.

Di samping itu, Pemkab KSB mengalokasikan anggaran khusus melalui APBD guna mendukung efektivitas penanganan kasus gizi buruk. Alokasi dana tersebut mencakup pemberian nutrisi tambahan hingga perbaikan sarana sanitasi lingkungan masyarakat.

PMT Berbasis Pangan Lokal

Adapun Dinas Kesehatan KSB mengandalkan gerakan intervensi serentak melalui penimbangan dan pengukuran antropometri terstandar di posyandu. Sebab, pemanfaatan bahan baku pangan lokal terbukti ampuh memperbaiki status gizi balita.

Sementara itu, Pemberian Makanan Tambahan berbahan dasar pangan lokal menjadi solusi strategis dalam mendongkrak asupan gizi anak secara berkala. Langkah ini menjamin pemenuhan nutrisi keluarga berisiko stunting secara utuh.

“Pemberian makanan tambahan berbasis bahan baku lokal terbukti efektif meningkatkan kualitas gizi anak,” ungkap Carlof.

Dengan demikian, penyatuan basis data e-PPGBM dan pemetaan Keluarga Berisiko Stunting terus diperkuat oleh petugas lapangan. Langkah sistematis ini memastikan setiap bantuan PMT menyasar balita yang benar-benar membutuhkan pemulihan.

Oleh karena itu, sinergi aktif antara puskesmas, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga kader posyandu memperkokoh percepatan penanganan kasus daerah. Saling dukung antarinstansi ini menjamin pengawasan gizi anak berjalan tanpa hambatan.

Pada akhirnya, kolaborasi menyeluruh seluruh elemen daerah bakal mewujudkan generasi Sumbawa Barat yang sehat dan berkualitas. Pemkab KSB optimistis mampu membebaskan daerah dari ancaman stunting pada masa mendatang. (*)

Artikel Terkait