Kota BimaPemerintahan

BPBD Kota Bima Minta Pengadaan Alat Peringatan Dini Banjir ke Pusat

Kota Bima (NTBSatu) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima terus mematangkan langkah antisipasi menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Fokus utamanya tertuju pada penanganan potensi banjir bandang yang kerap membayangi wilayah tersebut dalam siklus sepuluh tahunan.

Kepala BPBD Kota Bima, A. Faruk menyatakan, siklus banjir sepuluh tahunan tersebut selalu menjadi ancaman nyata yang harus terus diwaspadai sejak tahun 2016 silam.

“Teman-teman berpikir bahwa 2026 itu awal tahun. Padahal siklus banjir itu selalu di akhir tahun gitu loh,” ujarnya, belum lama ini.

IKLAN

Untuk mematangkan persiapan, BPBD Kota Bima bergerak cepat menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah provinsi hingga pusat. 

Pihaknya bahkan telah mendatangi langsung BNPB demi mengajukan tambahan logistik serta peralatan keselamatan kerja demi melindungi warga.

Di sisi lain, kehadiran proyek Nusantara Flood Resilience Project (NuFReP) yang bekerjasama dengan JICA membawa angin segar. Proyek ini terproyeksi untuk mereduksi risiko banjir akibat penyempitan dan tingginya sedimentasi di sejumlah sempadan sungai.

IKLAN

Minta Pengadaan EWS

Selain infrastruktur fisik, BPBD Kota Bima juga mendesak Kementerian PUPR, BWS, dan Bappenas untuk memprioritaskan pengadaan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS). Saat ini, alat EWS yang sebelumnya terpasang di wilayah Ntobo telah mengalami kerusakan. 

Keberadaan EWS ini sangat krusial, mengingat durasi perjalanan air banjir dari wilayah hulu seperti Lampe menuju Paruga memakan waktu sekitar dua jam.

“Di dua jam itu, kalau Early Warning System-nya bagus. Kita langsung bisa informasikan ke masyarakat, ‘Oh ya, banjir sekian, dengan ketinggian sekian,'” jelas Faruk.

Saat ini, petugas di lapangan terpaksa masih mengandalkan metode konvensional dengan memantau langsung tiang ukur di jembatan secara manual di tengah guyuran hujan lebat. Ke depan, BPBD menargetkan penambahan alat EWS di tiga titik aliran sungai utama, yakni jalur Wawo, Sungai Dodu, Sungai Lampe, serta Sungai Melayu.

Jika alat ini terpasang, BPBD dapat menyebarkan informasi tinggi muka air secara cepat melalui Facebook dan grup WhatsApp yang terintegrasi dengan Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK).

“Sehingga teman-teman seumpamanya di Paruga, kita sampaikan ke teman-teman TSBK Kelurahan Lewirato, langsung mereka umumkan di masjid gitu loh. Sesuai dengan informasi yang kita berikan,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait