Produsen Gula Aren di Gunungsari Minim Perhatian, Galeri Tak Berfungsi Maksimal
Lombok Barat (NTBSatu) – Di balik manisnya gula aren khas Gunungsari, Lombok Barat, tersimpan persoalan lama yang belum juga terselesaikan. Ratusan bahkan ribuan warga yang menggantungkan hidup dari produksi gula aren, dinilai masih minim perhatian. Selain itu, galeri wisata gula aren yang dibangun sejak bertahun-tahun lalu, justru terbengkalai dan belum berfungsi optimal.
Camat Gunungsari, Zulkifli mengungkapkan, potensi gula aren di wilayahnya sebenarnya sangat besar. Meskipun belum ada data pasti, namun berdasarkan pengamatannya, jumlah produsen gula aren mencapai lebih dari 5000 orang.
“Kalau lihat dari keseharian pedagang dan sepengetahuan saya dari keliling ke wilayah kecamatan, jumlahnya lebih dari 5000 orang kalau se-Kecamatan Gunungsari,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat, 8 Mei 2026.
Namun ironisnya, potensi besar itu belum ditopang fasilitas dan tata kelola wisata yang maksimal. Galeri gula aren yang dibangun di kawasan aliran Sungai Keluncing, Dusun Kekait Daye, Desa Kekait, justru tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Menurut Zulkifli, konsep awal galeri tersebut sebenarnya bukan sekadar menjual produk, melainkan menjadi wisata edukasi yang memperlihatkan langsung proses pembuatan gula aren kepada wisatawan.
“Kita ingin memperlihatkan bagaimana proses pembuatan aren yang menjadi wisatanya. Bukan produknya,” jelasnya.
Namun, lemahnya koordinasi antara pengelola galeri, pemandu wisata, dan beragam pihak terkait lainnya, membuat lokasi itu sepi pengunjung hingga akhirnya terbengkalai.
“Hanya saja mungkin karena kerja sama antara pengelola galeri aren dengan pemandu wisata dan sebagainya itu masih kurang baik, sehingga tidak banyak wisatawan yang kemudian dibawa ke sana,” ujarnya.
Warga Tetap Produksi Meski Tak Diperhatikan
Saat ini, produksi gula aren tetap berjalan, tetapi dilakukan secara mandiri di rumah-rumah warga atau di pinggir jalan dengan fasilitas seadanya. “Produksi aren dan gula semut itu masih berproduksi, tetapi tidak di sana. Tapi di rumah warga,” tambahnya.
Bahkan, di beberapa desa seperti Bukit Tinggi, mayoritas warga masih menggantungkan ekonomi keluarga dari produksi gula aren. Kepala Desa Bukit Tinggi, Ahmad Muttakin menyebut, sekitar 75 persen dari total 1.020 Kepala Keluarga (KK) di desanya merupakan pembuat gula aren.
“Kalau Bukit Tinggi, Batu Kekalik dan Murpadang rata-rata masyarakat pembuat gula. Berarti yang kerja sebagai produsen gula aren sekitar 750 KK,” katanya.
Status Galeri Belum Jelas
Kondisi galeri juga diperumit oleh status pengelolaannya yang belum jelas. Kepala Desa Kekait, Masjudin Dahlan menjelaskan, bangunan tersebut dibangun sekitar tahun 2016.
Pembangunannya secara swakelola oleh kelompok tani, namun hingga kini belum pernah diserahterimakan ke pemerintah desa. “Sampai sekarang belum diserahterimakan pengelolaannya ke desa, jadi desa belum bisa berbuat lebih jauh karena belum jelas statusnya,” katanya.
Zulkifli menilai, pengembangan potensi gula aren tidak cukup hanya membangun sarana fisik. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, OPD, hingga penggiat wisata harus diperkuat agar produksi gula aren benar-benar menjadi bagian dari destinasi wisata unggulan di Gunungsari.
“Bukan hanya sarananya, tapi keterlibatan masyarakat, OPD dan penggiat wisata juga harus ada,” tutupnya. (Zani)




