Kota Mataram

Lahan Padat dan Armada Rusak, Warga Pande Mas Timur Swadaya Jaga Kebersihan

Mataram (NTBSatu) – Masalah sampah masih menjadi kendala utama yang di Lingkungan Pande Mas Timur setiap tahunnya. Lingkungan tidak memiliki armada pengangkut sampah yang layak karena seluruh fasilitas yang ada sudah rusak berat.

Kepala Lingkungan (Kaling) Pande Mas Timur, Iwan Sarkawi menyatakan, saat ini lingkungannya harus bergantian dan mengantre menggunakan armada milik Lingkungan Mas Mutiara. 

“Untuk sementara armada ini kita nunggu giliran selesai dari lingkungan Mas Mutiara, baru ke kita. Sudah kita ajukan (ke kelurahan), cuma belum terealisasi,” ujar Sarkawi pada NTBSatu, Kamis, 11 Juni 2026.

IKLAN

Kondisi tersebut membuat jadwal pengangkutan sampah sedikit bergeser dari waktu biasanya. “Alhamdulillah lancar, cuma waktunya agak siang sedikit karena nunggu giliran,” tambahnya.

Untuk menyiasati keterbatasan operasional ini, warga berinisiatif mengumpulkan iuran mingguan secara swadaya guna membayar petugas kebersihan. 

“Untuk yang ngambil di rumah-rumah penduduk itu baru kita kasih uang mingguan. Misalnya lima sampai sepuluh ribu, tergantung banyaknya (sampah). Itu dibagi dua juga sama operatornya,” jelas Sarkawi.

IKLAN

Sarkawi mengaku, meskipun pengangkutan sampah terkendala armada, kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan tergolong sangat tinggi. 

Kegiatan gotong royong rutin digelar dua kali dalam sebulan. Apabila kegiatan gotong royong terhambat oleh kesibukan warga, pihak lingkungan langsung mengambil langkah alternatif dengan menyewa jasa kebersihan.

“Sementara kendala kesibukan di kampung terus-menerus, kita bayar tenaga untuk bersihkan. Kalau misalkan tidak sempat gotong royong, kita pakai jasa, supaya lingkungan kita tetap bersih karena itu prioritas kita,” tegasnya.

Kendala Lahan Sempit untuk Tempah Dedoro

Sarkawi menjelaskan, kepadatan penduduk juga menjadi tantangan besar pengelolaan sampah di Pande Mas Timur. Kawasan ini penuh oleh pemukiman yang sangat rapat dengan akses jalan yang sempit.

Ia mengatakan, lingkungannya sulit mengadaptasi Program Tempah Dedoro karena keterbatasan lahan ini.

“Kalau di lingkungan kita agak kesusahan karena padatnya ini. Terus takutnya nanti kita buat di satu tempat, kita mau pakai ramai-ramai, itu mungkin orang keberatan,”

Ia menambahkan, pihaknya dan kelurahan sedang bersinergi untuk mencari jalan keluar untuk masalah tersebut.

“Jadi di sini sedang kita upayakan tempatnya. Memang sudah ada titik, cuma belum bisa langsung kita buat, tapi sudah ada rencana. Alhamdulillah Pak Lurah (Karang Pule) orangnya aktif dan pintar, jadi kita banyak diskusi,” imbuhnya. (*)

Artikel Terkait