Lombok Timur

Dinas Dikbud Lotim Tanggapi Dugaan Siswa SD Meninggal Usai Aksi “Freestyle”, Minta Orang Tua Awasi Ketat Anak

Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), buka suara soal insiden seorang siswa SD berinisial HIW diduga  meninggal karena melakukan freestyle, seperti di gim Free Fire (FF).

Berdasarkan kabar yang beredar, korban diduga meninggal dunia karena mengalami cedera berat pada bagian tengkuk dan kepala.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi menekankan jika peristiwa tersebut terjadi di luar sekolah.

“Kejadiannya sudah dua bulan yang lalu dan itu terjadi di rumah siswa, tidak di sekolah,” katanya kepada NTBSatu, Selasa, 5 Mei 2026.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan penelusuran pihak dinas melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT), Bayan mengatakan, peristiwa ini terungkap setelah korban tidak masuk sekolah selama tiga hari.

Saat pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumahnya, korban dalam keadaan sakit pada bagian kepala dan leher.

Setelah dirujuk ke fasilitas kesehatan, teridentifikasi luka tersebut berasal dari tindakan freestyle hingga mengakibatkan masalah serius di area sekitar tengkuk.

Korban dikabarkan tinggal bersama kakeknya, karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Ketiadaan orang tua juga memengaruhi kurangnya pola pengawasan terhadap aktivitas keseharian korban di lingkungan rumah, termasuk saat terpapar konten digital yang berisiko.

Langkah Antisipasi

Menanggapi maraknya fenomena tren digital yang membahayakan anak-anak, Lalu Bayan mengaku, sudah melakukan langkah pencegahan dengan melibatkan berbagai stakeholder.

Selain itu, upaya sosialisasi juga digencarkan guna memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

“Kami sudah melakukan sosialisasi dengan melibatkan stakeholder agar tidak terjadi lagi hal yang sama,” lanjutnya.

Lalu Bayan juga mengimbau para orang tua untuk lebih ketat dalam memantau aktivitas anak, terutama saat mengakses konten media sosial yang memicu adrenalin untuk diikuti.

Pendampingan dari orang tua merupakan kunci utama dalam menyaring tren yang cukup berisiko bagi keselamatan fisik anak. “Pengawasan orang tua di rumah dan guru di sekolah menjadi prioritas utama,” tegasnya. (Inda)

Back to top button