AdvertorialPendidikan

Ketua STKIP Tamsis Bima ke Mahasiswa Baru: Kenali Kampusmu, IPK Tinggi Tak Cukup

Bima (NTBSatu) – Ketua STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., mengajak mahasiswa baru mengenal sejarah, perkembangan, dan visi kampus sebagai langkah awal merancang masa depan.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam kuliah umum berseri dengan tajuk “Menjadi Mahasiswa Unggul Berdaya Saing”, Selasa, 13 Oktober 2026.

Ibnu menegaskan, kesuksesan mahasiswa tidak hanya bergantung pada nilai akademik. Mereka juga perlu membangun pola pikir bertumbuh (growth mindset), memperluas literasi, dan mengembangkan keterampilan untuk menghadapi persaingan.

Sebagai putra sulung almarhum H. Sudirman Ismail, salah satu pendiri kampus, Ibnu turut mengulas perjalanan STKIP Taman Siswa Bima sejak awal pendirian hingga rencana pengembangan menjadi universitas.

Dari Lima Program Studi Menuju Universitas

Sudirman Ismail bersama Abdul Wahab merintis STKIP Taman Siswa Bima pada 2006. Kampus tersebut resmi berdiri pada 17 September 2007 dengan lima program studi berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional Nomor 176/D/O/2007.

Pada 2013, kampus menambah program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI). Selanjutnya, Program Magister Pedagogi hadir pada 2025.

Saat ini, STKIP Taman Siswa Bima memiliki enam program studi sarjana dan satu program magister. Kampus juga mengajukan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk bidang PGSD dan Pendidikan Jasmani. Target berikutnya adalah mengembangkan status institusi menjadi universitas pada 2027.

Ibnu turut memaparkan sejumlah capaian kampus, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi di Australia, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Kampus memiliki 75 dosen tersertifikasi serta 44 dosen bergelar doktor atau sedang menempuh studi doktoral. Sekitar 75 persen lulusan berkiprah di kawasan Indonesia Timur sebagai pendidik, wirausaha, dan aparatur pemerintahan.

IPK Tinggi Bukan Satu-satunya Modal Sukses

Mengacu pada konsep psikolog Carol S. Dweck, Ibnu menjelaskan perbedaan pola pikir tetap (fixed mindset) dan pola pikir bertumbuh (growth mindset). Mahasiswa dengan pola pikir bertumbuh memandang tantangan sebagai kesempatan belajar serta menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi.

Ia juga menekankan pentingnya kejujuran, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan penguasaan keterampilan teknis (hard skill) maupun interpersonal (soft skill). Kemampuan berkolaborasi dan memimpin turut menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja.

Pada materi literasi, Ibnu mengangkat persoalan generasi muda yang tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET (Not in Education, Employment, or Training). Ia juga mengajak mahasiswa memahami karakter Generasi Z yang akrab dengan teknologi, mandiri, dan senang berkolaborasi, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap privasi digital.

Menurutnya, mahasiswa perlu aktif memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan, bukan sekadar mengejar nilai akademik.

Dorong Mahasiswa Mandiri dan Berjiwa Wirausaha

Ibnu mengajak mahasiswa membangun kemandirian melalui lima prinsip belajar, yakni cerdas, keras, lugas, tuntas, dan ikhlas. Ia juga mendorong mereka menetapkan visi, mengelola waktu, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berani mengambil risiko secara bertanggung jawab.

Mahasiswa perlu menentukan arah karier sejak awal perkuliahan. Ibnu memaparkan empat pilihan, yaitu petani atau buruh tani, pegawai, profesional, dan wirausaha.

Sejalan dengan visi kampus, ia mendorong mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan agar mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari pekerjaan.

Menutup kuliah umum, Ibnu mengajak mahasiswa baru bangga terhadap almamater, meneruskan perjuangan para pendiri, terus bertumbuh, meningkatkan literasi, dan mulai mengambil tindakan nyata dari hal sederhana. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait