Lombok Timur

Petani Pringgabaya Keluar Rp150 Ribu Per Minggu untuk Air

Lombok Timur (NTBSatu) – Kemarau panjang mulai menambah beban petani di Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Petani harus mengeluarkan uang tambahan untuk memastikan tanaman tetap mendapat pasokan air. Biaya penyiraman bahkan mencapai Rp150 ribu setiap pekan.

H. Manan, salah seorang petani di Pringgabaya, mengatakan kondisi sumber air mulai menurun sejak beberapa bulan terakhir.

Saluran irigasi yang selama ini membantu petani mengairi lahan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Petani pun mencari sumber air lain untuk mempertahankan tanaman mereka.

IKLAN

“Kalau musim panas seperti ini, air susah sekali. Kami harus beli air atau menyewa mesin pompa untuk menyedot air dari sumur yang jaraknya jauh,” ujarnya, Jumat. 2 Oktober 2026.

Manan mengatakan, biaya tersebut belum mencakup tenaga dan waktu yang ia keluarkan untuk mengalirkan air ke ladang.

Ia tetap mengeluarkan biaya itu karena tanaman seperti cabai dan tomat menjadi sumber pendapatan keluarga. Jika petani berhenti menyiram, tanaman berisiko layu hingga mati.

IKLAN

“Kalau tidak disiram, tanaman bisa mati. Mau tidak mau ya harus keluar uang, walaupun hasil panen belum tentu cukup untuk menutup biaya,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga membuat Manan mengubah pilihan komoditas. Ia kini mencoba menanam melon dan semangka.

Namun, pilihan itu tidak serta-merta mengurangi kebutuhan air. Tanaman melon dan semangka tetap membutuhkan air, terutama pada masa awal pertumbuhan.

“Banyak yang bilang tanaman melon dan semangka tidak terlalu butuh air. Tapi nyatanya kalau musim kemarau yang panjang ini juga membutuhkan air,” tuturnya.

Kondisi petani Pringgabaya tidak terlepas dari karakter wilayah Lombok Timur yang memiliki hamparan lahan kering cukup luas.

113 Ribu Hektare Lahan Kering

Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin mengatakan, Lombok Timur memiliki sekitar 45 ribu hektare sawah beririgasi. Di sisi lain, Lombok Timur juga memiliki sekitar 113 ribu hektare lahan kering.

“Lahan kering ini tersebar di lima kecamatan, yakni Pringgabaya, Sambalia, Sakra Timur, Keruak, dan Jerowaru,” kata Haerul.

Menurut Haerul, petani di wilayah tersebut menerapkan strategi berbeda untuk memenuhi kebutuhan air.

Petani di wilayah selatan, misalnya, memanfaatkan sebagian lahan untuk menampung air hujan. Dari lahan seluas 1,5 hektare, petani dapat mengalokasikan sekitar 0,5 hektare untuk embung.

Sementara petani di wilayah utara mengandalkan air hujan untuk musim tanam pertama. Jika ingin kembali menanam pada musim berikutnya, petani perlu menggunakan sumur bor.

“Saya optimis bahwa dengan manajemen air yang tepat dan dukungan lembaga, kesejahteraan masyarakat di wilayah lahan kering dapat terus ditingkatkan,” kata Haerul.

Kondisi di Pringgabaya menunjukkan persoalan air bukan hanya menyangkut ketersediaan untuk tanaman. Ketika sumber air menurun, petani juga harus menambah biaya produksi untuk mempertahankan tanaman hingga masa panen. (*)

Artikel Terkait