Dinas Kesehatan Temukan 32 Kasus HIV/AIDS di Lombok Timur hingga Agustus 2026
Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Timur mencatat 32 kasus HIV/AIDS hingga Agustus 2026. Pemerintah daerah terus memperkuat edukasi dan pemeriksaan untuk mencegah penularan serta mendorong masyarakat mengakses layanan pengobatan.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi mengatakan, jumlah kasus yang terdeteksi cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Namun, peningkatan tersebut juga berkaitan dengan pemeriksaan yang semakin gencar dilakukan.
“Kalau dari sisi angka memang, karena kita juga gencar melakukan pemeriksaan, memang secara kuantitatif selalu meningkat,” kata Aries, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, faktor risiko penularan HIV yang cukup menonjol saat ini berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Dinas Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan puskesmas terus memberikan edukasi terkait cara penularan serta langkah pencegahan HIV kepada masyarakat.
Aries menjelaskan, HIV dapat menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, cairan sperma, cairan vagina, maupun air susu ibu.
Karena itu, masyarakat perlu memahami mekanisme penularan agar dapat melakukan pencegahan dengan tepat.
Stigma Hambat Pengobatan HIV
Di sisi lain, Aries mengingatkan masyarakat agar tidak menjauhi atau mendiskriminasi orang yang hidup dengan HIV.
Menurutnya, stigma justru dapat membuat penderita enggan memeriksakan diri dan mengakses pengobatan.
“Kita tidak boleh melakukan diskriminasi. Dengan edukasi yang baik, harapan kita pemahaman masyarakat tentang HIV ini bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga menyediakan layanan pengobatan HIV secara gratis melalui sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas.
Aries mengatakan, pengobatan dapat menekan perkembangan virus dalam tubuh sehingga kondisi kesehatan dan kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Ia menyebut, kematian akibat HIV/AIDS masih terjadi di Lombok Timur, terutama pada pasien yang sudah memasuki fase AIDS.
Pemerintah terus mendorong pasien menjalani pengobatan untuk menekan risiko tersebut.
“Dengan layanan pengobatan ini, kalau yang sudah terinfeksi, dengan meminum obat ini kualitas hidupnya akan jauh lebih baik,” katanya.
Aries mengakui, rasa malu dan stigma masih menjadi tantangan dalam penanganan HIV.
Karena itu, Dinas Kesehatan bersama KPA dan puskesmas terus mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan serta mengakses layanan kesehatan tanpa takut mendapat perlakuan diskriminatif. (*)




