Lombok TimurPendidikan

Ketika Hujan Turun, Teras Sekolah Menjadi Kelas Siswa SDN 2 Batu Putik

Lombok Timur (NTBSatu) – Hujan bagi sebagian anak mungkin menjadi penanda waktu bermain di genangan atau menikmati udara yang lebih sejuk. Namun bagi 81 siswa SDN 2 Batu Putik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, hujan justru menjadi tanda bahwa mereka harus meninggalkan ruang kelas.

Begitu air mulai masuk dari plafon yang jebol, siswa tidak bisa lagi melanjutkan pelajaran seperti biasa. Mereka harus berpindah ke teras sekolah yang menjadi tempat paling aman untuk melanjutkan pembelajaran.

Situasi itu kembali menghantui pihak sekolah setiap kali tanda-tanda musim hujan mulai muncul. Bukan hanya karena ruang kelas bocor, tetapi juga karena kayu penyangga plafon sudah lapuk dan membuat sekolah khawatir terjadi hal yang lebih buruk.

IKLAN

Kepala SDN 2 Batu Putik, Muhsan mengatakan, pihak sekolah bahkan harus memikirkan langkah antisipasi sebelum hujan benar-benar turun. Jika kondisi ruang kelas semakin memburuk, ia tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan siswa.

“Kalau hujan datang, anak-anak lebih aman belajar di teras. Kalau di dalam sudah tidak bisa karena bocor,” kata Muhsan, Kamis, 10 September 2026.

Kerusakan itu terjadi pada sejumlah ruang yang digunakan siswa. Kelas 3B, 4A, 4B dan 5A mengalami kerusakan pada bagian plafon maupun sekat ruang.

IKLAN

Sebanyak 86 siswa terdampak kondisi tersebut. Mereka terdiri dari 24 siswa kelas 3B, 39 siswa kelas 4 A dan B, serta 24 siswa kelas 5.

Tak hanya ruang kelas. Ruang guru dan rumah dinas juga mengalami kerusakan. Sekat triplek yang menjadi pembatas ruang kelas sudah jebol, sementara cat dinding terlihat usang.

Saat Plafon Tak Lagi Aman

Yang paling membuat pihak sekolah cemas adalah kondisi plafon. Anyaman bambu yang menjadi bagian dari plafon sudah jebol, sedangkan kayu penyangganya mulai lapuk.

Sekolah bahkan kesulitan memperbaiki kerusakan secara swadaya. Muhsan mengaku, sudah memanggil beberapa tukang untuk menangani bagian plafon yang bocor.

Namun, tiga tukang memilih mundur setelah melihat kondisi bangunan. Mereka tidak berani naik ke bagian plafon karena khawatir kayu penyangga tidak lagi kuat.

“Sudah tiga tukang yang kami panggil, tapi mereka tidak berani naik. Mereka bilang kondisi sekolahnya sudah seperti ini,” ujar Muhsan.

Padahal, sekolah sudah lama mengupayakan perbaikan. Muhsan menyebut, pengajuan pertama berlangsung sejak 2020.

Pihak sekolah kembali mengusulkan perbaikan pada 2024. Pengajuan kemudian berlanjut melalui aplikasi bantuan pendidikan pemerintah pusat dan selesai pada 2025.

Saat itu, sekolah mendapat informasi bahwa pengajuan rehabilitasi mereka sudah mendapat persetujuan untuk pelaksanaan pada 2026.

Harapan pun muncul. Namun hingga September 2026, rehabilitasi yang ditunggu belum juga datang.

“Sudah disetujui untuk mendapat bantuan tahun 2026. Tapi sampai sekarang kami masih menunggu kepastiannya,” katanya.

Muhsan kini hanya bisa menyiapkan langkah darurat. Jika hujan kembali turun dan ruang kelas tidak memungkinkan untuk digunakan, ia berencana memindahkan pembelajaran ke teras atau tempat lain yang lebih aman.

Ia berharap, pemerintah segera memberikan kepastian sebelum musim hujan benar-benar datang. Sebab bagi sekolah, persoalannya bukan lagi sekadar bangunan yang terlihat kusam atau ruang kelas yang bocor.

Ada 86 siswa yang harus tetap belajar di tengah bangunan yang kondisinya semakin mengkhawatirkan.

“Saya kasihan dengan anak-anak. Kami berharap pemerintah memberikan perhatian dan merespons kondisi SDN 2 Batu Putik ini,” ucap Muhsan.

Tunggu Panggilan Pusat

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Hasanudin mengatakan, pengajuan rehabilitasi sekolah saat ini berjalan melalui aplikasi pemerintah pusat.

Sekolah mengajukan kebutuhan secara mandiri melalui sistem tersebut. Dinas di daerah tidak menentukan sekolah mana yang mendapat bantuan.

Hasanudin membenarkan, pengajuan SDN 2 Batu Putik sudah mendapat status disetujui atau berwarna hijau dalam sistem. Namun, status itu belum otomatis berarti pekerjaan rehabilitasi langsung berjalan.

Menurutnya, pemerintah pusat masih menjalankan penyaluran dalam beberapa tahap. Setelah tahap ketiga, masih terdapat tahap keempat dan kelima.

“Kalau sudah statusnya hijau, kita berharap masih ada tahap berikutnya. Mudah-mudahan semua yang sudah disetujui mendapat panggilan di tahap selanjutnya,” kata Hasanudin.

Daerah Tidak Miliki Wewenang

Ia juga menegaskan, tidak ada intervensi dari pemerintah daerah dalam penentuan penerima bantuan. Seluruh proses mengikuti kebijakan dan sistem pemerintah pusat.

“Ini murni pusat yang menentukan. Dari dinas, provinsi maupun kabupaten tidak ada intervensi,” ujarnya.

Hasanudin meminta sekolah tetap menunggu proses tersebut. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, pemanggilan penerima bantuan masih berlangsung hingga mendekati akhir September.

Bagi SDN 2 Batu Putik, setiap hari yang berlalu berarti satu hari lagi untuk menunggu kepastian. Sementara ketika hujan akhirnya turun, para siswa mungkin kembali harus mengangkat buku, meninggalkan bangku mereka, lalu mencari tempat belajar yang tidak bocor.

Teras sekolah pun kembali menjadi ruang kelas darurat. (*)

Artikel Terkait