Opini

Kere Alang dan Perempuan Sumbawa: Ketika Setiap Kampung Bisa Membuat Kainnya Sendiri

Oleh: Rusli Cahyadi, Ph.D. – Antropolog, Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan, BRIN dan Staf Pengajar Departemen Antropologi FISIP UI

Ada sesuatu yang menarik setiap kali kita membicarakan kere alang, kain tenun tradisional Sumbawa. Bagi banyak orang Sumbawa, kere alang bukan sekadar kain. Ia berhubungan dengan perempuan, rumah, masa remaja, pingitan dan perkawinan. Seorang gadis yang mulai memasuki masa dewasa tidak hanya belajar bagaimana menjadi seorang perempuan dalam keluarga. Ia juga belajar berbagai keterampilan yang dianggap penting bagi kehidupan rumah tangga. Salah satunya adalah memintal benang dan menenun kain.

Ingatan semacam ini bukan tanpa dasar. Beberapa sumber tentang kehidupan perempuan Sumbawa menggambarkan kegiatan menenun sebagai salah satu aktivitas perempuan ketika berada dalam pingitan. Loteng rumah menjadi salah satu ruang tempat perempuan muda melakukan kegiatan tersebut. Dari sinilah kere alang kemudian memperoleh makna yang lebih jauh daripada sekadar kain hasil kerajinan. Ia menjadi bagian dari proses seorang gadis memasuki kehidupan sebagai perempuan dewasa.

IKLAN

Tetapi ada sesuatu yang menarik ketika ingatan tersebut kita pertemukan dengan data hampir satu abad lalu.

Dalam Sensus Penduduk 1930, Kuperus mencatat 10.482 orang di West-Sumbawa sebagai pekerja dalam apa yang disebutnya textielnijverheid, atau industri tekstil. Dari jumlah tersebut, 10.359 adalah perempuan dan hanya 123 laki-laki. Lebih menarik lagi, dari 10.359 perempuan itu, 5.319 sudah menikah dan 5.040 belum menikah.

Angka ini sekaligus membenarkan dan mengoreksi ingatan kita tentang kere alang.

IKLAN

Benar bahwa menenun merupakan bagian dari keterampilan perempuan muda. Tetapi menenun ternyata tidak berhenti ketika seorang perempuan menikah. Hampir separuh perempuan yang tercatat sebagai pekerja tekstil oleh Kuperus adalah perempuan yang sudah menikah.

Dengan demikian, menenun mungkin memang dimulai sebagai keterampilan yang dipelajari seorang gadis ketika memasuki masa dewasa. Tetapi setelah itu ia dapat terus menjadi bagian dari pekerjaan perempuan dalam rumah tangga.

Di sinilah kere alang menjadi menarik. Ia bukan hanya cerita tentang kain. Ia membawa kita kepada cara sebuah rumah tangga Sumbawa pada masa lalu menjalankan kehidupannya.

Industri tanpa pabrik

Kuperus menggunakan istilah textielnijverheid. Istilah ini bagi pembaca sekarang mungkin terdengar seperti industri dengan pabrik, mesin dan pekerja yang menerima upah.

Tetapi bukan itu yang terjadi di West-Sumbawa. Yang dimaksud Kuperus adalah kegiatan memintal kapas lokal serta menenun benang lokal dan benang yang didatangkan dari luar. Kegiatan tersebut dilakukan di hampir semua kampung. Kuperus bahkan menghubungkan keberadaan industri tekstil dengan kondisi ekonomi keluarga petani. Menurutnya, kesejahteraan kelompok agraris ditingkatkan karena anggota keluarga petani juga melakukan pekerjaan tekstil.

Karena itu, kata “industri” dalam tulisan Kuperus perlu kita pahami dalam konteks zamannya.

Industri tekstil West-Sumbawa tidak mempunyai pabrik besar. Pabriknya adalah rumah. Tenaga kerjanya adalah keluarga. Dan tempat produksinya adalah kampung.

Gambaran ini sebenarnya sudah muncul dalam catatan yang lebih tua.

Jasper, yang menulis tentang Sumbawa pada 1907, mencatat adanya perubahan dalam bahan baku tenun. Pada masa sebelumnya masyarakat membuat benang sendiri dari kapas yang mereka hasilkan. Namun kemudian mereka semakin banyak menggunakan benang yang didatangkan dari Eropa, yang disebut kafa mampida (benang Eropa). Perubahan bahan baku tersebut tidak membuat kegiatan menenun menghilang. Jasper justru mencatat bahwa “bunyi alat tenun masih terdengar di hampir setiap kampung”.

Keterangan Jasper ini memberi warna pada apa yang kemudian dicatat Kuperus sekitar dua puluh delapan tahun kemudian. Ketika Kuperus mengatakan bahwa textielnijverheid dilakukan in bijna alle kampongs, atau “di hampir semua kampung”. Kuperus sedang mencatat sesuatu yang secara sosial sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumbawa.

Kapas lokal semakin banyak digantikan oleh benang yang didatangkan dari luar. Tetapi produksi kain tetap berlangsung di rumah-rumah dan kampung-kampung.

Di sini kita dapat melihat perbedaan penting antara bahan baku dan kemampuan produksi. Masuknya benang Eropa tidak berarti masyarakat Sumbawa berhenti memproduksi kain sendiri. Mereka justru memasukkan bahan dari luar ke dalam sistem produksi yang tetap berada di tingkat rumah tangga.

Dengan demikian, perdagangan tidak selalu berarti hilangnya produksi lokal. Benang dapat datang dari luar, tetapi alat tenun tetap berada di rumah. Keterampilan tetap berada pada perempuan. Produksi tetap berlangsung di kampung.

Bayangkan sebuah kampung Sumbawa pada awal abad ke-20. Di antara aktivitas di sawah, ladang, kebun dan halaman rumah, terdengar pula bunyi alat tenun. Tidak ada satu bangunan yang diberi nama pabrik tekstil. Tetapi pekerjaan yang sekarang kita sebut sebagai industri berlangsung di banyak rumah.

Karena itu, ketika Kuperus menemukan lebih dari sepuluh ribu orang dalam kategori textielnijverheid, angka tersebut tidak seharusnya membuat kita membayangkan sebuah industri modern. Angka itu justru menunjukkan betapa luasnya produksi rumah tangga tersebut.

Secara ringkas dapat dikatakan, industri tekstil West-Sumbawa tidak mempunyai pabrik. Pabriknya adalah rumah. Jaringannya adalah kampung. Dan tenaga produksinya terutama perempuan.

Ketika kampung menjadi tempat produksi

Kuperus menunjukkan bahwa masyarakat agraris West-Sumbawa tidak memiliki pembagian pekerjaan yang setajam yang mungkin terlihat dari statistik sensus. Banyak orang yang tercatat sebagai pekerja tekstil merupakan anggota keluarga petani. Karena itu, petani dan penenun bukan dua kelompok sosial yang berbeda. Mereka sering berada dalam rumah tangga yang sama.

Sebuah keluarga dapat mengerjakan sawah atau ladang, memelihara ternak dan pada saat yang sama menghasilkan kain.

Pembagian kerja juga berlangsung menurut jenis kelamin. Laki-laki lebih banyak berada dalam pekerjaan pertanian, perikanan dan pekerjaan lainnya. Perempuan mendominasi pemintalan dan penenunan. Dari 10.482 pekerja tekstil yang dicatat Kuperus, lebih dari 98 persen adalah perempuan. Dengan demikian, perempuan bukan sekadar membantu ekonomi keluarga. Mereka adalah bagian penting dari produksi ekonomi rumah tangga.

Dan produksi itu tidak terpusat di satu tempat. Ia tersebar di banyak kampung. Di sinilah kita dapat memahami sesuatu yang mungkin sering hilang ketika kita melihat kehidupan kampung masa lalu hanya dari pertanian. Kampung bukan hanya tempat orang tinggal setelah bekerja di sawah atau ladang. Kampung juga merupakan tempat berbagai kebutuhan hidup diproduksi.

Ada yang mengolah kayu dan bambu. Ada yang menangkap ikan. Ada yang bertani. Ada yang memelihara ternak. Ada perempuan yang memintal dan menenun. Semua pekerjaan itu berlangsung dalam lingkungan kehidupan yang sama. Kampung dengan demikian menjadi semacam unit ekonomi yang relatif lengkap. Bukan berarti kampung tidak mengenal pasar. Tetapi kampung tidak sepenuhnya bergantung pada pasar.

Kampung yang tidak sepenuhnya bergantung pada pasar

Masyarakat West-Sumbawa ternyata sudah terhubung dengan perdagangan. Benang dari luar masuk ke Sumbawa dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada benang yang keluar. Pada 1931, misalnya, hampir 2.926 kilogram benang untuk ditenun masuk, sementara tidak ada benang yang tercatat keluar. Pada 1933, impor mencapai 2.984 kilogram, sementara ekspor hanya 122 kilogram.

Jadi kain yang dibuat di kampung tidak berarti seluruh proses produksinya bersifat lokal. Kapas dapat berasal dari Sumbawa. Benang dapat dipintal sendiri. Tetapi benang dari luar juga digunakan. Demikian pula dengan pakaian. Kuperus mencatat masuknya sarung dan barang manufaktur dalam jumlah besar dari luar Sumbawa. Bahkan ia menggunakan data tersebut untuk menunjukkan bahwa kebutuhan pakaian penduduk jauh lebih besar daripada yang dapat dipenuhi oleh produksi tekstil lokal.

Ini membuat gambaran ekonomi Sumbawa masa lalu menjadi lebih menarik. Masyarakat tidak hidup dalam ekonomi yang tertutup. Mereka membeli barang dari luar. Mereka menggunakan bahan yang didatangkan dari luar. Mereka berdagang. Tetapi pada saat yang sama, mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan banyak kebutuhan sendiri.

Karena itu, lebih tepat jika kita menyebutnya kemandirian relatif. Bukan masyarakat yang hidup tanpa pasar, melainkan masyarakat yang tidak sepenuhnya bergantung pada pasar.

Kuperus mencatat bahwa pasar hanya berkembang di beberapa tempat, antara lain Sumbawa Besar, Taliwang, Alas dan Labuan Sumbawa. Sebagian besar wilayah berada jauh dari pusat-pusat tersebut sehingga tidak banyak menggunakan pasar. Tetapi Kuperus juga memperingatkan agar wilayah-wilayah tersebut tidak dianggap tanpa perdagangan. Barter berkembang di sejumlah tempat, dengan hanya sebagian transaksi dibayar menggunakan uang.

Kondisi ini membuat kampung memiliki posisi ekonomi yang berbeda dengan desa masa kini. Sebagian kebutuhan dapat diperoleh dari produksi sendiri. Sebagian melalui pertukaran. Sebagian lainnya baru diperoleh melalui pasar.

Dari kain ke kehidupan rumah tangga

Karena itu, kere alang sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai warisan budaya semata. Ia adalah salah satu jejak dari sebuah sistem ekonomi yang pernah hidup di kampung-kampung Sumbawa.

Kain dibuat di rumah. Perempuan menjadi tenaga utama. Anak perempuan belajar keterampilan menenun ketika memasuki masa dewasa. Setelah menikah, pekerjaan tersebut tidak otomatis berhenti. Sebagian perempuan terus menenun sebagai bagian dari ekonomi rumah tangganya. Di sini kita menemukan sesuatu yang berbeda dari gambaran romantis tentang kere alang.

Kere alang memang dapat menjadi bagian dari pingitan dan persiapan seorang perempuan menuju perkawinan. Tetapi data Kuperus menunjukkan bahwa fungsi tenun jauh lebih panjang daripada masa tersebut. Ia melekat pada siklus kehidupan perempuan dan ekonomi rumah tangga.

Mungkin karena itu pula kita harus berhati-hati ketika membandingkan ekonomi masa lalu dengan ekonomi sekarang. Kita sering mengatakan bahwa masyarakat dahulu lebih mandiri. Tetapi Kuperus justru menunjukkan bahwa mereka sudah terhubung dengan perdagangan dan menggunakan barang dari luar.

Yang berbeda adalah tingkat ketergantungannya. Dulu, rumah tangga dapat menghasilkan sebagian kebutuhan hidupnya sendiri. Kampung dapat menyediakan berbagai macam pekerjaan. Pertanian dapat berjalan bersama peternakan. Perempuan dapat menghasilkan kain. Barang tertentu dapat dipertukarkan. Pasar digunakan ketika diperlukan.

Sekarang, semakin banyak kebutuhan rumah tangga dipenuhi dengan membeli. Perubahan itu bukan hanya perubahan ekonomi. Ia juga mengubah organisasi kehidupan sehari-hari.

Dulu, kegiatan produksi tersebar di rumah-rumah dan kampung-kampung. Sekarang produksi semakin banyak berlangsung di tempat yang terpisah dari rumah dan kemudian masuk kembali ke rumah sebagai barang yang dibeli.

Karena itu, kere alang sebenarnya mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih besar daripada kain. Ia mengingatkan kita pada masa ketika kampung bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat memproduksi kehidupan.

Di masa itu, suara alat tenun terdengar dari rumah-rumah. Perempuan memintal dan menenun. Laki-laki mengerjakan sawah, ladang, hutan atau laut. Ternak menjadi bagian dari ekonomi keluarga. Barang tertentu didatangkan dari luar. Sebagian lainnya dibuat sendiri.

Kampung tidak hidup tanpa pasar. Tetapi kampung juga tidak hidup hanya dari pasar.

Di situlah letak pelajaran penting dari kere alang dan perempuan Sumbawa. Di balik sehelai kain terdapat sebuah gambaran tentang ekonomi yang tersebar, berbasis rumah tangga, dibangun oleh pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, dan memiliki kemampuan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan hidupnya sendiri. (*)

Artikel Terkait

Baca Juga
Close