NTBPendidikan

UNU NTB Luncurkan Program ‘Ngaji Gizi Bareng Santri’, Perkuat Pesantren Sehat

Mataram (NTBSatu) – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) meresmikan (kick-off) program riset unggulan bertajuk “Ngaji Gizi Bersama Santri”. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Seminar Kesehatan, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Acara berlangsung meriah mengumpulkan para pemangku kepentingan dan para santri di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB.

Kolaborasi strategis Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU, Danone Indonesia, UNU Yogyakarta, dan UNU NTB ini bertujuan membangun ekosistem pesantren sehat. Seluruh pihak berkomitmen menguatkan literasi gizi serta kesehatan lingkungan pesantren.

IKLAN

Rektor UNU NTB, Dr. H. Baiq Mulianah, M.Pd., membuka langsung agenda tersebut. Dalam sambutannya, Rektor memberi apresiasi tinggi sekaligus menegaskan komitmen UNU NTB mengawal penciptaan lingkungan pesantren yang bersih, sehat, dan berdaya saing.

“Lewat program ini, UNU NTB beserta seluruh mitra berharap mampu mencetak santri yang tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki fisik prima dan kemampuan kognitif yang optimal.,” kata Baiq Mulianah.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (FK Unram) Dr. dr. Ima Arum Lestari, M.Si.Med, Sp.PK, serta Dewan Kesehatan Lombok Barat yang juga Ketua FKUB Provinsi NTB, Dr. Buya Muhammad Subki Sasaki, M.H.

Pesantren Potensial Jadi Agent of Change Kesehatan

Saat memaparkan materi, Dr. dr. Ima Arum Lestari menyoroti potensi besar pesantren Indonesia yang menampung jutaan santri dari 42 ribu lebih lembaga. Aktivitas santri teratur selama 24 jam penuh (belajar, makan, ibadah, tidur) menjadikan pesantren wadah sangat strategis melahirkan agent of change (agen perubahan) bidang kesehatan.

“Pesantren memiliki komunitas besar dan pola hidup teratur. Namun, interaksi intensif 24 jam antar santri membawa risiko penularan penyakit berbasis komunitas jika pesantren tidak mengimbanginya dengan literasi gizi dan sanitasi memadai,” ungkap Dr. Ima.

Pakar Patologi Klinik FK Unram ini menjelaskan, pemahaman gizi tidak sekadar membahas asupan fisik seperti nasi dan telur. Lebih luas, ilmu gizi mempelajari proses metabolisme tubuh, fungsi fisiologis, hingga performa fisik dan kognitif santri akibat pengaruh nutrisi (makronutrien dan mikronutrien).

Screening Defisiensi Besi dan Pentingnya Tepat Sasaran

Dr. Ima secara khusus menyoroti masalah silent problem seperti anemia dan defisiensi zat besi yang kerap menyerang santri maupun ibu hamil. Kekurangan zat besi (komponen pembentuk hemoglobin dan feritin) menurunkan kadar HB, membuat santri mudah lemas, mengantuk, serta sulit berkonsentrasi saat mengaji atau belajar.

Ia mendorong penguatan inovasi screening kesehatan awal lingkungan pesantren, salah satunya lewat pemeriksaan kadar feritin untuk mendeteksi defisiensi besi sejak dini.

“Zat besi memegang peran krusial membentuk sel darah merah pembawa oksigen ke seluruh metabolisme tubuh dan otak. Kekurangan zat besi langsung menurunkan daya tahan serta kinerja fisik santri. Ke depan, inovasi screening gizi harus meluas agar program intervensi kesehatan maupun pencegahan stunting mencapai sasaran yang tepat,” tegasnya.

Poskestren Jadi Pusat Tata Kelola Gizi Terintegrasi

Program ini mendorong penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) sebagai pusat tata kelola gizi terintegrasi lingkungan pondok. Poskestren menjadi unit kerja internal pesantren arahan pengasuh bersama puskesmas lokal, dengan menggerakkan Kader Santri Husada secara aktif.

Skema pergerakan Poskestren mengombinasikan dua pilar utama. Pertama, Fungsi Sains, dengan menjalankan pemantauan status gizi (antropometri berkala) serta menyebarkan literasi empiris.

Kedua, fungsi Agama, dengan menjadikan upaya kesehatan preventif manifestasi ketakwaan komunal sekaligus tanggung jawab sosial (Hifz Al-Nafs).

Sistem integrasi ini turut menghubungkan dapur pesantren untuk pemantauan SOP gizi dan keamanan pangan. Selain itu, puskesmas sebagai episentrum literasi sains gizi serta ruang kelas guna supervisi klinis dini dan kolaborasi.

Pentingnya Gizi dan Standarisasi Kesehatan di Lingkungan Pondok Pesantren

Sementara itu, Dewan Kesehatan Lombok Barat yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTB, Dr. Buya Muhammad Subki Sasaki, M.H., menekankan pentingnya perhatian terhadap gizi dan fasilitas kesehatan lingkungan di pondok pesantren.

Pesan tersebut disampaikannya, mengutip landasan syariat serta dalil Al-Qur’an (Surah Asy-Syu’ara ayat 78-80). Dalil tersebut berisi kekuasaan Allah SWT yang memberi makan, minum, dan menyembuhkan penyakit.

Buya Subki mengulas makna kata gizi dan makanan yang banyak tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Menurutnya, pemenuhan gizi dan makanan yang halal bukan sekadar persoalan metabolisme fisik semata. Melainkan juga memiliki dampak besar terhadap psikologis dan ketenangan pikiran seseorang.

“Makanan dan minuman yang halal tidak hanya berfungsi bagi metabolisme tubuh, tetapi juga berpengaruh pada metabolisme pikiran. Jika makanan yang dikonsumsi tidak halal atau didapat dengan cara tidak baik, pikiran tidak akan tenang. Sehingga ibadah dan doa pun menjadi sulit untuk khusyuk,” tegasnya.

Membandingkan kondisi pesantren dari masa ke masa, Buya Subki menyoroti perlunya pengelompokan atau grading kualitas lingkungan dan kesehatan. Menurutnya, hingga saat ini belum ada klasterisasi standar (grade A, B, atau C) untuk kelayakan lingkungan fasilitas pesantren di NTB. (*)

Artikel Terkait