NTB Peringkat Dua Nasional Minat Baca Tertinggi, tapi Kenapa Buta Aksara Masih Tinggi?
Mataram (NTBSatu) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mencatat capaian membanggakan pada sektor literasi nasional. Data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI tahun 2025, menempatkan Provinsi NTB pada posisi kedua nasional tingkat kegemaran membaca tertinggi.
Namun pada waktu yang sama, data Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan NTB masih masuk tiga besar provinsi dengan angka buta aksara tertinggi nasional. Persentasenya mencapai sekitar 8,93 persen penduduk usia 15 tahun ke atas, yang belum mampu membaca dan menulis.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Dr. H. Ashari, S.H., M.H., menilai, dua data tersebut tidak saling bertentangan karena masing-masing memakai indikator berbeda.
“Terkait dua data tersebut, kami melihat keduanya sebenarnya tidak sepenuhnya bertentangan, karena indikator yang digunakan berbeda dan tidak selalu berbanding lurus,” ujarnya pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Ashari menjelaskan, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dari Perpusnas mengukur minat, kebiasaan, perilaku, hingga akses masyarakat terhadap aktivitas membaca. Penilaian tersebut mencakup tahapan sebelum membaca, saat membaca, hingga setelah membaca.
Hasil survei Perpusnas 2025 menunjukkan, masyarakat NTB memiliki budaya membaca yang cukup kuat. Kondisi tersebut muncul seiring tumbuhnya gerakan literasi dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, NTB memiliki sekitar 181 komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Gerakan tersebut mendapat dukungan dari perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, hingga komunitas membaca yang aktif menyasar anak-anak dan remaja.
“Kami sangat mengapresiasi peran komunitas literasi, TBM, dan para pegiat literasi NTB yang dengan semangat kerelawanan, bahkan di luar jam sekolah, terus membangun dan mendorong tumbuhnya budaya baca di kalangan anak-anak hingga remaja,” katanya.
Ashari juga memberikan apresiasi kepada Bunda Literasi NTB, melalui Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) yang aktif turun langsung menyapa masyarakat dan komunitas literasi.
“Kami juga memberikan apresiasi kepada Bunda Literasi NTB melalui Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) yang sangat masif turun langsung ke lapangan, menyapa komunitas dan anak-anak NTB untuk terus membangun kebiasaan membaca,” lanjutnya.
Alasan Buta Aksara Masih Tinggi
Ashari menegaskan, data angka buta aksara dari BPS memiliki fokus berbeda. BPS mengukur kemampuan dasar masyarakat dalam membaca dan menulis, bukan kebiasaan membaca. Karena itu, tingginya minat baca masyarakat tidak otomatis menurunkan angka buta aksara dalam waktu singkat.
Menurutnya, angka buta aksara di NTB masih cukup tinggi karena masih ada kelompok masyarakat tertentu yang belum memperoleh akses pendidikan dasar secara maksimal. Kondisi tersebut banyak terjadi pada kelompok usia lanjut, masyarakat wilayah terpencil, dan warga dengan keterbatasan akses pendidikan.
“Artinya, NTB saat ini sedang mengalami kemajuan literasi di satu sisi, namun di sisi lain masih memiliki pekerjaan rumah dalam pemerataan pendidikan dasar dan pemberantasan buta aksara,” jelasnya.
Ia menilai, pembangunan literasi tidak cukup hanya mendorong budaya membaca. Pemerintah dan masyarakat juga perlu memastikan seluruh warga memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis.
Karena itu, Ashari mengajak masyarakat melihat dua data tersebut sebagai gambaran kondisi literasi NTB secara utuh. Menurutnya, NTB saat ini memiliki energi literasi yang kuat, namun masih membutuhkan penguatan akses pendidikan dan pendampingan bagi kelompok masyarakat rentan. (*)




